Daimler mengatakan perlu mengurangi biaya kepegawaian demi beralih mengembangkan industri mobil listrik. Transformasi otomotif ke mobil listrik akan memicu gelombang investasi baru dalam mobil listrik, namun sebelum itu terjadi industri otomotif harus meningkatkan daya saing dan inovasinya.
"Industri otomotif sedang mengalami transformasi terbesar dalam sejarahnya. Kami ingin meningkatkan daya saing, inovasi, dan kekuatan investasi," imbuh Daimler seperti dilansir CNN.com, Senin (2/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pelaku industri otomotif tradisional di seluruh dunia tengah beradaptasi dengan bisnis model mereka dari mesin yang mengandalkan bensin dan diesel menjadi mobil listrik.
Namun, peralihan tersebut berakibat pada pengurangan jumlah tenaga kerja, karena produksi mobil listrik membutuhkan lebih sedikit pekerja. Di sisi lain, biaya investasi yang dibutuhkan tidak sedikit.
Lihat juga:Harga Cabai Makin Tak 'Pedas' |
PHK yang dilakukan Audi diperkirakan menghemat sekitar 6 miliar euro atau US$6,6 miliar selama 10 tahun. Kendati begitu, produsen mobil premium tersebut akan menciptakan 2.000 pekerjaan baru yang fokus pada mobil listrik.
Ford, produsen mobil asal Amerika Serikat (AS), sebelumnya mengungkap merumahkan ribuan karyawan mereka pada Mei 2019. Sebulan kemudian, sebanyak 12 ribu karyawan di-PHK.
[Gambas:Video CNN]
Kemudian, Nissan juga mengumumkan melakukan PHK terhadap 12.500 karyawan mereka. PHK terjadi di tengah penurunan penjualan mobil akibat perlambatan ekonomi.
Fitch Ratings memproyeksi bahwa penjualan mobil di dunia turun 3,1 juta unit pada tahun ini. Angka penurunan ini jauh lebih tajam ketimbang 2008 lalu ketika krisis menghantam.
Bisnis otomotif memang tertekan, terutama di Inggris dan India, di mana perlambatan ekonomi telah mengurangi permintaan pasar untuk mobil baru. Di Inggris, jumlah kendaraan yang diproduksi turun selama 16-17 bulan terakhir dampak ketidakpastian Brexit. (bir)