Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan proyeksi ini sejatinya tidak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sebab, akhir tahun merupakan masa libur bagi masyarakat, sehingga permintaan akan tiket angkutan udara trennya meningkat.
"Yang perlu diwaspadai adalah tarif angkutan udara, karena biasanya permintaannya naik, maka terjadi kenaikan harga tiket juga," ucap Suhariyanto di Kantor BPS, Senin (2/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Harga beras agak naik di level petani, tapi di grosir masih stabil. Harga beras diperkirakan masih stabil di Desember 2019," tutur Suhariyanto.
Sementara, BPS mencatat tingkat inflasi berada di angka 0,14 persen secara bulanan pada November 2019. Dengan realisasi itu, maka inflasi secara tahunan sebesar 2,37 persen dan secara tahunan 3 persen.
"Inflasi disumbang oleh daging, tomat, telur ayam ras dan sayur-sayuran, meski ada deflasi dari cabai merah dan ikan segar," katanya.
Andil inflasi lain diberikan oleh kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,4 persen karena kenaikan harga rokok di tingkat pengecer. Selain itu juga oleh kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sekitar 0,03 persen lantaran peningkatan harga sewa rumah.
Lalu, kelompok kesehatan andilnya 0,01, kelompok sandang serta pendidikan, rekreasi, dan olahraga berandil nol persen, dan kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan justru deflasi sebesar 0,07 persen.
[Gambas:Video CNN]
"Ini karena turunnya tarif angkutan udara andilnya 0,02 persen, mungkin karena bukan peak season dan ada penurunan tiket yang tinggi di Tanjung Pandan dan Mamuju," jelasnya.
Kendati begitu, realisasi inflasi nasional sejatinya masih di bawah target pemerintah dan Bank Indonesia (BI) sebesar 3,5 persen pada tahun ini. (uli/bir)