Direktur Utama LEN Industri Zakky Gamal Yasin mengatakan target itu akan dikejar secara bersama-sama oleh para perusahaan negara di bidang industri pertahanan, misalnya PT Dirgantara Indonesia (Persero) dan PT PAL Indonesia (Persero). Saat ini, para BUMN baru bisa memenuhi sekitar 13 persen kebutuhan pengadaan alutsista Kemenhan.
"Harapan kami bisa memenuhi sekitar 35 persen dalam lima tahun ke depan, kalau bisa malah per tahun mencapai 30 persenan. Khusus LEN, tahun lalu kami penuhi dengan nilai kontrak Rp1 triliun, tahun depan diupayakan mencapai Rp2 triliun," ujar Zakky kepada CNNIndonesia.com di Kementerian BUMN, Selasa (3/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalnya juga pesawat tempur, kan kami belum bisa buat sendiri, maka kami jajak kerja sama dengan Korea Selatan, apakah bisa alternatif pesawat tempur ke depan, begitu juga kapal selam. LEN sendiri mau fokus penuhi kebutuhan radar dulu," jelasnya.
Di sisi lain, perusahaan juga memaksimalkan kerja sama di dalam negeri dengan rencana pembentukan kluster industri pertahanan bersama PTDI, PT PAL, PT Pindad (Persero), dan PT Dahana (Persero). Sebelumnya, kelima perusahaan pelat merah dikabarkan akan membentuk holding perusahaan dengan induk PTDI.
Zakky percaya kluster industri pertahanan ke depan tak hanya bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan pengadaan alutsista nasional, namun juga memberi keuntungan bagi perusahaan secara bisnis. Sebab, kluster bisa membuat penetrasi pasar kelima perusahaan membesar.
Lalu, bisa memudahkan masing-masing perusahaan dalam mencari sumber pendanaan, peningkatan aset dan modal, hingga negosiasi proyek yang lebih besar. Sebagai gambaran, Kemenhan memiliki pagu anggaran sebesar Rp109,55 triliun pada APBN 2019. Anggaran tersebut akan meningkat menjadi Rp127,35 triliun pada APBN 2020.
Dari anggaran 2020, alokasi untuk pengadaan alutsista sekitar Rp14,53 triliun. Namun, alokasi itu belum termasuk anggaran pemeliharaan dan perawatan hingga modernisasi alutsista yang memiliki anggaran sendiri.
Sayangnya, dari alokasi pengadaan alutsista itu, baru 13 persen yang dipenuhi oleh industri dalam negeri, seperti LEN Industri Cs. Sisanya, dari impor.
(uli/age)