Informasi itu diperlukan agar pemerintah bisa membuat kebijakan yang tepat dalam mengantisipasi penumpukan cadangan beras. Sebab, bila tidak, ia khawatir penumpukan pasokan hanya membuat kualitas beras menurun dan biaya perawatan mutu membengkak.
"Terkait penumpukan stok beras yang tidak tersalurkan harus (diberitahu) jauh-jauh hari karena kita harus pikirkan dan putuskan. Di samping meningkatkan biaya perawatan (penumpukan beras) juga berpotensi menurunkan mutu beras yang ada," ucap Jokowi di Kompleks Istana Kepresidenan, Rabu (4/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, menurut Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso, beras itu tidak serta merta dibuang percuma. Namun, beras itu akan diolah menjadi berbagai produk, misalnya tepung beras. Selain itu, juga berpotensi untuk dihibahkan menjadi pakan ternak dan diolah menjadi ethanol.
Rencananya, beras akan dilelang sebelum beras diolah jadi produk lain. "Mekanismenya akan dilelang. Nanti terserah yang membeli untuk dijadikan apa. Yang mau dijadikan tepung juga silahkan. Tapi lelangnya harus jadi tepung, bukan beras. Ada perjanjiannya nanti," terangnya.
Kendati begitu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati ingin menunggu keputusan dari Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto terkait pembelian beras yang akan dibuang oleh Perum Bulog. Bila Airlangga memberi perintah pembelian, maka Kementerian Keuangan akan menggelontorkan dana ke Bulog.
Oleh karenanya, sambung dia, perlu dilakukan rapat koordinasi di bawah pimpinan Airlangga. Sebab, Kemenko Perekonomian merupakan penanggung jawab atas berbagai kebijakan di kementerian/lembaga teknis.
"Nanti kami lihat kalau sudah dirapatkan oleh Menko (Perekonomian). Saya lihat semuanya bagaimana permintaannya," ucap Sri Mulyani.
[Gambas:Video CNN]
(uli/sfr)