"Stance-nya (kebijakan moneter) masih longgar di 2020," ujar Direktur Eksekutif Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI Endy Dwi Tjahjono dalam Pelatihan Wartawan BI di Manggarai Barat, NTT, Senin (9/12).
Tahun ini, bank sentral telah memangkas suku bunga acuannya sebanyak empat kali masing-masing 25 basis poin (bsp) menjadi 4,75 persen selama periode Juli-Oktober 2019.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tahun depan, BI memperkirakan pertumbuhan penyaluran kredit mencapai 10 hingga 12 persen. Proyeksi itu lebih tinggi dari perkiraan realisasi tahun ini yang sebesar 8 persen.
Di tempat yang sama, Kepala Ekonom PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Ryan Kiryanto melihat peluang BI memangkas suku bunga acuannya tahun depan.
[Gambas:Video CNN]
"Masih ada peluang BI menurunkan suku bunga satu kali pada kuartal I 2020," ujarnya.
Ia menilai dampak penurunan suku bunga acuan terhadap penyaluran kredit tahun ini belum optimal lantaran sikap investor yang masih 'wait and see'. Sikap itu dipicu oleh berbagai faktor mulai dari ketidakpastian global hingga pemilihan presiden.
Tahun depan, Ryan optimistis permintaan kredit akan meningkat. Hal itu seiring dengan komitmen pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi. Salah satunya melalui penerbitan omnibus law terkait perpajakan dan ketenagakerjaan.
Ryan memperkirakan kredit akan banyak disalurkan untuk sektor industri manufaktur, khususnya, subsektor otomotif, elektronika, tekstil dan apparel, kimia, serta makanan dan minuman.
(sfr/agt)