Ia mencontohkan direksi juga menjabat komisaris pada empat sampai enam perusahaan. Hal ini dinilainya sudah tidak wajar. "Seharusnya, kalau sudah jadi direktur, maksimal dua (merangkap jabatan di dua perusahaan). Tidak mungkin direksi jadi komisaris di 8 hingga 10 anak usaha," ujarnya, Jumat (13/12).
Terlebih, katanya, Menteri Erick sedang memperkuat posisi komisaris di perusahaan pelat merah. Mengingat, selama ini andil komisaris BUMN dalam penentuan keputusan terbilang tidak maksimal.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian, mantan Direktur Operasi Garuda Indonesia Bambang Adisurya juga duduk sebagai komisaris di dua anak usaha dan dua cucu usaha. Lalu, mantan Direktur Kargo dan Pengembangan Usaha Garuda Indonesia Mohammad Iqbal mendapatkan jatah kursi komisaris di satu anak usaha dan empat cucu usaha.
Berikutnya, mantan Direktur Teknik dan Layanan Iwan Joeniarto memiliki jabatan komisaris di dua anak usaha dan empat cucu usaha. Terakhir, mantan Direktur Human Capital Heri Akhyar menempati jabatan komisaris di delapan cucu usaha sekaligus.
"Ari sudah dicopot dari enam anak dan cucu usaha sebagai komisaris. Dengan itu membuktikan kalau banyak tugas komisaris yang tidak efektif," tutur Arya.
Menurutnya, seorang direksi tak mungkin mampu mengemban tugas sebagai komisaris di lebih dari lima anak dan cucu perusahaan. Pasalnya, masing-masing perusahaan juga memiliki banyak perencanaan yang harus dicek secara detail.
"Akhirnya kan orang lihatnya hanya cari gaji saja," pungkas Arya.
[Gambas:Video CNN] (aud/bir)