Direktur Utama Jiwasraya Hexana Tri Sasongko menuturkan komposisi portofolio investasi perseroan banyak di saham lantaran manajemen terdahulu mengejar imbal hasil tinggi (yield) guna membayar keuntungan investasi nasabah untuk produk saving plan yang dijual melalui agen bank (bancassurance).
"Penempatan hasil premi sangat jauh dari prinsip kehati-hatian jadi investasi digeser dan ditempatkan pada reksa dana saham dan saham, kenapa pilihannya seperti itu karena kalau dalam surat utang pemerintah tidak terkejar janji return yang diberikan nasabah," katanya, Senin (16/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk diketahui, yield yang ditawarkan melalui produk tersebut mencapai 13 persen. Jumlah itu lebih tinggi dari rata-rata yield surat utang pemerintah yakni 9 persen. Tak heran, jika manajemen menempatkan premi nasabah pada portofolio saham.
Data perseroan menyebutkan ekuitas Jiwasraya tercatat negatif sebesar Rp23,92 triliun per September 2019. Pasalnya, liabilitas perseroan mencapai Rp49,6 triliun sedangkan asetnya hanya Rp25,68 triliun.
Sementara itu, untuk memenuhi rasio solvabilitas atau Risk Based Capital (RBC) 120 persen Jiwasraya maka membutuhkan dana sebesar Rp32,89 triliun.
[Gambas:Video CNN] (ulf/age)