Hal itu tercantum dalam laporan 'Ibu Kota Baru Buat Siapa'. Laporan itu merupakan publikasi bersama Forest Watch Indonesia, Jatam, Jatam Kaltim, Pokja 30, Pokja Pesisir dan Nelayan, Trend Asia, Walhi, dan Wahli Kaltim.
Mengutip kajian Bappenas, kawasan IKN yang seluas 180 ribu hektar (Ha) dibagi menjadi tiga ring cakupan wilayah. Ring satu seluas 5.644 Ha yang disebut pemerintah sebagai Kawasan Inti Pusat Pemerintahan. Ring dua seluas 42.000 Ha sebagai kawasan IKN. Lalu, ring tiga seluas 180.965 ha sebagai Kawasan Perluasan IKN.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain batu bara, sambung laporan itu, terdapat dua konsesi kehutanan. Pertama, konsesi berstatus Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan-Kayu-Hutan Alam (IUPHHK-HA) milik PT International Timber Corporation Indonesia Kartika Utama (PT IKU).
Kedua, konsesi berstatus Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman (IUPHHK-HT) milik PT International Timber Corporation Indonesia Hutani Manunggal (PT IHM). Seperti diberitakan sebelumnya, PT IKU dan PT IHM kini dimiliki oleh taipan Sukanto Tanoto melalui Asia Pacific Resources Internasional Limited.
Berikutnya, terdapat 10 konsesi perkebunan di atas kawasan IKN. Rinciannya delapan berada di ring dua dan tiga yaitu Kecamatan Samboja dan Muara Jawa serta sisanya di Kecamatan Sepaku.
Salah satu temuan itu menyatakan ada lahan konsesi milik PT Perkebunan Kaltim Utama (PKU) I. Berdasarkan situs resmi, PKU merupakan perusahaan perkebunan dan pabrik kelapa sawit yang 90 persen sahamnya dimiliki Toba Bara Grup.
Lebih lanjut, terdapat 1 PLTU di wilayah ring tiga. Laporan menyebut PLTU batu bara tersebut mendapatkan izin lokasi pendirian di bawah bendera PT Indo Ridlamata Power (IRP) di Kecamatan Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Lihat juga:Jokowi Resmikan Tol Pertama di Ibu Kota Baru |
IRP dimiliki oleh PT PLN (Persero) melalui anak usahanya, PT Indonesia Power. Dikutip dari situs resmi Indonesia Power, IRP berdiri pada September 2007 dengan dengan kegiatan usaha pengembangan PLTU Muara Jawa 2x27,5 MW di Muara Jawa, Kalimantan Timur.
[Gambas:Video CNN]
(sfr)