Direktur Eksekutif IESR Fabby Tumiwa menilai hal tersebut terjadi karena rendahnya daya saing Indonesia dalam menarik Investor Energi Baru Terbarukan (EBT).
Fabby menyebut Investor yang masuk pada 2015 pun mayoritas keluar dari Indonesia di tahun 2017 dan selanjutnya berinvestasi di negara-negara tetangga Indonesia. Salah satunya, Vietnam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fabby kemudian menyebut beberapa faktor yang mempengaruhi minimnya daya saing, seperti kurangnya dana proyek-proyek energi baru terbarukan. Terhitung, per 2019, sebanyak 27 proyek memiliki kesulitan pendanaan.
Hal itu, sambung Fabby, tak lepas dari terlalu bergantungnya proyek-proyek Indonesia kepada pendanaan dari korporat.
Padahal, lanjut Fabby, sifat pendanaan di negara lain yang memiliki investasi EBT yang tinggi memiliki pendanaan tipe project finance, bukan corporate finance seperti Indonesia.
Akibat minim pendanaan, Fabby menyebut beberapa bank sudah kehilangan nafsu untuk meminjamkan modal di ranah EBT.
"Bahkan dari hasil survei kami terakhir, sejumlah bank dalam negeri mulai kehilangan appetite atas proyek-proyek energi terbarukan di Indonesia," tuturnya.
Dengan larinya investor, lanjut Fabby, akan menimbulkan permasalahan terutama berkaitan target bauran energi yang dicanangkan pemerintah, yakni mencapai 23 persen di 2025.
IESR sendiri, telah memproyeksi Indonesia membutuhkan investasi sebesar US$70 miliar hingga US$90 miliar untuk mencapai tingkat bauran energi tersebut.
"Sedangkan, perkembangan EBT masih jauh di bawah ekspektasi. Kalau kita lihat hampir tidak ada proyek-proyek baru yang masuk sepanjang 2019," ungkapnya.
Lihat juga:Jokowi Resmikan Tol Pertama di Ibu Kota Baru |
"Investasi energi terbarukan terus turun dan ada di bawah target yang sebenarnya dicanangkan dalam RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) maupun RENSTRA (Rencana Strategis) Kementerian ESDM pada tahun 2015," tuturnya.
Menurut Fabby, pemerintah harus segera melakukan tindakan konkret dalam mengatasi permasalahan EBT di Indonesia. Salah satu caranya adalah dengan memastikan pencanangan omnibus law akan dapat berjalan dengan baik.
"Saya rasa pemerintah harus bertindak cepat, karena investor yang masih bertahan juga pasti tidak memiliki waktu yang banyak dalam wait and see kalau tidak ada perubahan nyata," ungkapnya.
Di tempat yang sama. Sekretaris Ditjen EBTKE Halim Sari Wardana mengungkapkan bauran energi baru terbarukan merupakan bagian dari upaya pemerintah menekan impor minyak dan gas bumi (migas).
Halim menegaskan bahwa potensi energi terbarukan cukup besar dalam menekan impor migas ke depan. Hal itu salah satunya tercermin dari program pencampuran biodiesel pada minyak Solar.
Ia mengatakan Indonesia sudah siap dengan penggunaan bahan bakar B30 yang akan dirilis 23 Desember 2019.
"Kita kan sudah ada B20, sebentar lagi mulai 23 Desember ini kita bisa mulai menggunakan B30, secepatnya kita kebut B40, B50 kalau bisa sampai B100," tuturnya.
[Gambas:Video CNN] (ara/sfr)