Percepatan ia minta supaya proses pengeboran minyak dan gas bumi di blok tersebut bisa segera dilaksanakan. Percepatan juga perlu dilakukan guna mempertahankan tingkat produksi Blok Rokan saat jatuh tempo alih kelola pada 2021 mendatang.
"Kami sudah minta Pertamina proaktif kemudian Chevron bisa membuka pintu, sudah. Tiap minggu Chevron sudah lapor. Kemudian kami pertemukan dengan Pertamina," ujarnya seperti dikutip dari website Sekretariat Kabinet, Kamis (26/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penunjukan tersebut menghentikan pengelolaan Blok Rokan oleh PT Chevron Pacific Indonesia yang mengantongi hak pengelolaan blok migas terbesar di Indonesia itu sejak 1971. Kementerian tersebut menyatakan memilih Pertamina dengan alasan komersial.
Dari sisi komersial, Pertamina mengajukan dalam proposalnya bonus tanda tangan sebesar US$784 juta atau sekitar Rp11, 3 triliun. Kemudian, komitmen kerja pasti untuk lima tahun sebesar US$500 juta atau sekitar Rp7,2 triliun. Tak hanya itu, potensi pendapatan negara selama 20 tahun pengelolaan akan mencapai US$57 miliar, atau sekitar Rp825 triliun.
[Gambas:Video CNN]
(agt)