Staf Ahli Kementerian BUMN Arya Sinulingga mengungkapkan pemerintah belum menentukan waktu penjualan saham undervalue yang dimiliki oleh Jiwasraya. Aksi itu baru akan dilakukan ketika harga sahamnya sudah lebih baik agar tak terlalu rugi.
"Kapan jual saham belum tahu, masih lihat nilainya tunggu tinggi dulu. Tergantung pasar. Pokoknya nilainya sampai Rp5,6 triliun," ucap Arya, Kamis (26/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi untuk saham-saham detailnya masih kami data apa saja," imbuh Arya.
Sementara, upaya lainnya adalah dengan menjual saham anak usaha Jiwasraya, yaitu Jiwasraya Putra kepada investor dengan target nilai Rp3 triliun. Penjualan saham anak usaha diharapkan rampung pertengahan tahun depan.
Selanjutnya, pemerintah akan membentuk induk usaha (holding) BUMN asuransi demi menyelamatkan keuangan Jiwasraya. Dari holding ini, diharapkan ada kucuran dana segar per tahunnya sebesar Rp2 triliun.
"Holding asuransi ini kan targetnya ada dana masuk Rp2 triliun ke Jiwasraya. Ini selama empat tahun, sehingga totalnya Rp8 triliun," katanya.
Arya bilang target pembentukan holding asuransi paling lambat dilakukan sebelum Agustus 2020. Menurutnya, seluruh perusahaan asuransi BUMN akan menjadi bagian dalam holding tersebut.
Arya berujar seluruh dana segar yang didapat akan digunakan untuk membayar utang pokok Jiwasraya kepada nasabah.
"Jadi nasabah dibayar pokoknya dulu, tidak sama bunga. Totalnya yang dibutuhkan pokoknya Rp15,7 triliun," jelas dia.
Lebih lanjut, ia menambahkan saat ini total aset Jiwasraya sebesar Rp23,26 triliun dengan liabilitas mencapai Rp50,5 triliun. Aset perusahaan paling banyak ditempatkan di sejumlah saham yang tidak likuid atau tak laris di pasar, sedangkan mayoritas likuiditas berasal dari klaim produk asuransi saving plan.
[Gambas:Video CNN] (aud/sfr)