Basuki mengungkapkan ratusan pegawai itu akan melakukan survei terkait penyebab banjir di kawasan Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek). Salah satu yang disurvei tanggul yang jebol di kawasan Kemang Pratama, Bekasi.
"Saya hari ini menerjunkan 280 pegawai PUPR ke 180 titik banjir berdasarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Dua hari ini mereka survei penyebab banjirnya," ucap Basuki, Jumat (3/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pasalnya, wilayah Jabodetabek saat ini belum memasuki puncak musim hujan. Dengan demikian, masih ada potensi hujan yang lebih deras dalam beberapa hari ke depan.
Diketahui, banjir menerjang sejumlah wilayah di Jabodetabek setelah hujan deras sepanjang malam pergantian tahun kemarin. Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyebut banjir dipicu kerusakan ekosistem dan ekologi.
[Gambas:Video CNN]
Selain itu, banjir terjadi karena masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Sementara itu Menteri Basuki menyebut banjir terjadi karena masalah normalisasi Sungai Ciliwung yang belum selesai.
Saat ini masih ada sungai sepanjang 17 kilometer yang belum dinormalisasi dan pada saat banjir kemarin airnya meluap kemana- mana.
"Namun, mohon maaf Bapak Gubernur (Anies Baswedan), selama penyusuran kali Ciliwung ternyata sepanjang 33 kilometer itu yang sudah ditangani dinormalisasi 16 km. Di 16 km itu kita lihat insyaallah aman dari luapan," kata dia.
Anies menyebut soal sampah menjadi penyebab banjir ini justru harus dicek kembali, sebab di beberapa titik banjir ekstrem yang terjadi di beberapa wilayah justru malah tak menjadi daerah dengan produksi sampah yang cukup tinggi.
"Halim itu setahu saya enggak banyak sampah. Tapi, bandaranya kemarin tidak bisa berfungsi. apakah ada sampah di bandara? Rasanya tidak. Tapi, Bandara Halim kemarin tidak bisa digunakan," kata Anies di Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, Kamis (2/1).
Anies malah menyalahkan banjir terjadi karena cuaca yang cukup ekstrem.
Lihat juga:Banjir Jakarta Hambat Pengiriman Barang |