Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.919 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi Senin (6/1), yakni Rp13.961 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat, yuan China naik 0,52 persen, won Korea 0,47 persen, peso Filipina 0,45 persen, dan ringgit Malaysia menguat 0,26 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penguatan hanya terjadi pada poundsterling Inggris sebesar 0,22 persen terhadap dolar AS.
Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah sore ini disebabkan oleh sentimen domestik dari intervensi pasar valas dan obligasi yang dilakukan Bank Indonesia (BI) dan pemerintah.
Menurutnya, BI hari ini berhasil dalam melakukan intervensi di pasar valas dan obligasi di perdagangan DNDF karena telah mengantisipasi kondisi global sebelumnya.
"Sehingga BI dapat melakukan penjagaan ketat dan ekstra waspada terhadap mata uang garuda," ujarnya.
Kendati demikian, Ibrahim menjelaskan bahwa pasar masih tetap berhati-hati atas situasi di Timur Tengah di tengah meningkatnya kekhawatiran konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp13.850 hingga Rp13.950 pada perdagangan Rabu (8/1) esok.
[Gambas:Video CNN] (ara/bir)