Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.860 per dolar AS atau menguat dibandingkan posisi Rabu (8/1), yakni Rp13.934 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Tercatat, won Korea menguat 1,00 persen, rupee India 0,31 persen, peso Filipina menguat 0,30 persen, dan dolar Taiwan sebesar 0,28 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi menilai penguatan rupiah sore ini disebabkan oleh sentimen dari peringkat surat utang stabil yang diberikan kepada Indonesia.
Ibrahim mengatakan bahwa lembaga pemeringkat internasional Moody's Investors Service telah memberi peringkat stabil untuk surat utang Indonesia. Prospek diberikan dalam laporan anyar Moody's yang dirilis pada Januari 2020.
Ibrahim juga mengatakan terdapat sentimen domestik yang berpengaruh positif dari rilis data cadangan devisa Rabu (8/1) kemarin.
Diketahui, Bank Indonesia (BI) mengumumkan bahwa cadangan devisa Indonesia meningkat hingga US$2,5 miliar pada Desember 2019 menjadi US$129,18 miliar, dari yang sebelumnya US$126,63 miliar pada November 2019.
Posisi cadangan devisa pada bulan Desember merupakan yang tertinggi sepanjang 2019.
Dari sisi eksternal, Ibrahim menyebut fokus pasar akan beralih kembali ke ekonomi global, yakni terhadap kesepakatan perdagangan antara AS dan China.
"Pasar berharap bahwa AS dan China akan menandatangani kesepakatan perdagangan minggu depan, yang memberikan dukungan mendasar untuk aset berisiko," ungkapnya.
Ibrahim kemudian menyebut mayoritas Investor memandang kesepakatan itu akan menghapus salah satu ketidakpastian terbesar dan membantu mendorong pertumbuhan global tahun ini.
Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp13.800 hingga Rp13.860 pada perdagangan Jumat (10/1).
[Gambas:Video CNN] (ara/age)