Hal ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan usai mengikuti rangkaian pertemuan bilateral antara Indonesia dan UEA di Abu Dhabi pada Minggu (12/1). Pertemuan itu dihadiri langsung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Mohammed bin Zayed (MBZ).
"Dari perbincangan tadi diungkap bahwa pihak UEA akan menjadi kontributor terbesar dalam proyek SWF di antara yang lainnya. Yang masuk ke dalam SWF adalah UEA, Softbank (Jepang), dan IDFC dari Amerika Serikat, dan tidak menutup kemungkinan ada pihak lain yang ikut bergabung," ujar Luhut dalam keterangan tertulis, Senin (13/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mungkin ini baru pertama kali terjadi pihak-pihak yang bermodal besar bekerja sama dalam satu proyek," katanya.
Lebih lanjut, ia mengatakan pembahasan proyek SWF akan kembali dibicarakan pada bulan depan. Pasalnya, pemerintah melalui Menteri BUMN Erick Thohir perlu menyiapkan dasar hukum pembentukan SWF lebih dulu.
Kemudian, pemerintah juga perlu kembali membicarakan kelanjutan pembentukan SWF dengan AS dan Jepang. Rencananya, pembicaraan dengan kedua negara juga akan dilakukan pada bulan depan.
Di sisi lain, Luhut turut menekankan bahwa kontribusi dari UEA sangat penting, khususnya di bidang investasi. Sebab, selama ini banyak pandangan menyatakan bahwa Indonesia hanya berorientasi ke negara-negara barat dalam menjaring investasi.
[Gambas:Video CNN]
"Selama ini, menurutnya kami hanya melihat ke barat, inilah saatnya kami melihat dan bekerja sama dengan Timur," tekannya.
Di luar SWF, kedua negara juga menandatangani 16 perjanjian kerja sama. Lima perjanjian berupa kerja sama antar pemerintah di bidang keagamaan, pendidikan, pertanian, kesehatan, dan penanggulangan terorisme.
Sedangkan 11 perjanjian lain merupakan kerja sama antar bisnis di bidang energi, migas, petrokimia, pelabuhan, telekomunikasi, dan riset dengan estimasi total nilai investasi sebesar US$22,89 miliar atau sekitar Rp314,9 triliun. (uli/bir)