"Ya, pasti (akan ada perombakan) saya kira," kata Kartika saat ditanyakan kemungkinan perombakan manajemen di Gedung Mahkamah Agung, Jakarta, Senin (13/1).
Kendati demikian, Kartika masih belum dapat menjelaskan secara detail terkait perombakan tersebut. Hanya saja, ia memastikan perombakan dilakukan pada tahun ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Panggil Direksi Asabri
Terkait persoalan keuangan perusahaan, ia mengatakan Kementerian BUMN akan memanggil beberapa jajaran direksi dari Asabri untuk mengidentifikasi lebih lanjut. Rencananya, pemanggilan akan dilakukan pada akhir minggu ini.
"(Akan dipanggil) akhir minggu ini mungkin," jelasnya.
"Iya ini sedang kita kaji, sedang kita lihat karena kan nilai (kerugian) nya bergerak terus," ujarnya.
Kartika, juga menjelaskan bahwa perusahaan asuransi tersebut telah merugi sejak lama. Hanya saja, dia belum bisa memberikan keterangan lebih lanjut karena masih dilakukan investigasi bersama Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
"Kami lagi teliti, kami lagi investigasi dengan BPK jadi belum terlihat dari kapannya. Tapi ini sudah cukup lama," jelasnya.
"Ya, itu nama-nama yang sudah beredar itulah nama-nama sahamnya, kan sudah pada tahu juga," ucapnya.
Sebagai informasi, Asabri adalah perusahaan asuransi jiwa bersifat sosial yang diselenggarakan secara wajib berdasarkan undang-undang dan memberikan perlindungan finansial untuk kepentingan prajurit TNI, anggota Polri, dan PNS Kemhan/Polri.
Persoalan di tubuh Asabri diungkap oleh Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD beberapa waktu lalu.
[Gambas:Video CNN]
"Saya mendengar ada isu korupsi di Asabri yang mungkin itu tidak kalah fantastisnya dengan kasus Jiwasraya, di atas Rp10 triliun gitu," ujar Mahfud di Kantor Kementerian Polhukam, Jumat (10/1).
Asabri sendiri disebut memiliki saham di 12 perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Saham tersebut berpotensi turun sepanjang 2019 hingga Rp7,47 triliun atau 80,23 persen, menjadi Rp1,84 triliun dari awal penghitungan Rp9,31 triliun. (ara/age)