"Perkembangan ULN tersebut disebabkan oleh perlambatan pertumbuhan ULN pemerintah maupun ULN swasta," ujar Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi BI Onny Widjanarko dalam keterangan resmi dikutip Rabu (15/1).
Jika dirinci, utang luar negeri pemerintah pada akhir November 2019 mencapai US$198,6 miliar atau sekitar Rp2.780,4 triliun. Nilai tersebut tumbuh 10,1 persen (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya, 13,6 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, ULN sektor swasta mencapai US$200,1 miliar atau berkisar Rp2.801,4 triliun. Posisi tersebut tumbuh 6,9 persen (yoy), melambat dibandingkan posisi Oktober, 10,7 persen.
Realisasi ULN swasta antara lain dipengaruhi oleh cukup tingginya pelunasan surat berharga domestik yang jatuh tempo. Di saat yang sama, terjadi penerbitan surat utang perusahaan bukan lembaga keuangan dan penarikan pinjaman oleh perbankan.
"Pangsa ULN di keempat sektor tersebut terhadap total ULN swasta mencapai 76,9 persen," kata Onny.
Dari sisi tenor, struktur ULN Indonesia tetap didominasi oleh ULN berjangka panjang dengan pangsa 88,5 persen dari total ULN.
Bank sentral menilai ULN Indonesia tetap sehat didukung penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan. Kondisi tersebut tercermin dari rasio ULN Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada November 2019, 35,9 persen.
[Gambas:Video CNN]
Dalam rangka menjaga struktur ULN tetap sehat, BI dan pemerintah terus meningkatkan koordinasi dalam memantau perkembangan ULN, didukung dengan penerapan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaannya.
"Peran ULN juga akan terus dioptimalkan dalam menyokong pembiayaan pembangunan, dengan meminimalisasi risiko yang dapat mempengaruhi stabilitas perekonomian," pungkasnya.