"Defisit (2019) ini jauh lebih kecil, hampir sepertiganya dibandingkan defisit 2018 yang mencapai US$8,69 miliar," ujar Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, Rabu (15/1)
Defisit terjadi karena nilai ekspor lebih kecil dibandingkan impornya. Ekspor masih tumbuh 6,94 persen dibandingkan dari tahun lalu menjadi US$167,53 miliar. Sementara impor nilainya mencapai US$170,2 miliar meski merosot merosot 9,53 persen (yoy).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Impor tertinggi sepanjang tahun lalu berasal dari China US$44,58 miliar, Jepang US$15,59 miliar, dan Thailand US$9,41 miliar.
Khusus Desember 2019, BPS mencatat kinerja perdagangan mencatatkan defisit sebesar US$28,2 juta. Tercatat, ekspor naik 3,77 persen menjadi US$14,47 miliar dibandingkan bulan sebelumnya.
Kenaikan ekspor nonmigas disumbang oleh industri pertanian sebesar 10,24 persen menjadi US$370 juta. Hal ini karena ada penurunan ekspor untuk komoditas buah-buahan tahunan, hasil hutan kayu, tanaman obat aromatik, dan mutiara hasil budidaya.
Lalu, industri pengolahan naik 2,57 persen menjadi US$10,86 miliar. Penurunan ekspor industri ini terjadi pada komoditas minyak kelapa sawit, pakaian jadi, minyak kelapa dan kimia dasar organik.
Kemudian, ekspor industri pertambangan naik 4,71 persen persen menjadi US$2,08 miliar karena komoditas, seperti biji tembaga, aspal dan kerikil.
Untuk impor Desember 2019, nilai impor turun 5,47 persen menjadi US$14,5 miliar. Hal ini terjadi karena ada penurunan impor migas sebesar 0,06 persen menjadi US$2,13 miliar dan impor nonmigas turun 6,35 persen menjadi US$12,37 miliar.
Ia merinci, penurunan impor terjadi pada kelompok barang bahan baku/penolong sebesar 6,83 persen secara bulanan menjadi US$10,4 miliar. Sementara, impor kelompok barang konsumsi merosot sekitar 1,32 persen menjadi US$1,65 miliar dan kelompok barang modal melandai 2,16 persen menjadi US$2, miliar.
"Communication system, generation system, dan telecommunication equipment merupakan barang modal yang menurun impornya," tandasnyanya.
Berdasarkan negara asal, penurunan impor terjadi dari Australia turun US$188 juta, Jepang minus US$148,3 juta, dan China US$123 juta. Sedangkan peningkatan impor datang dari Italia sebesar US$47,4 juta, Oman US$29,5 juta, dan Bulgaria US$28,8 juta.
[Gambas:Video CNN] (sfr/bir)