Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Askolani mengatakan pihaknya masih perlu waktu untuk memantau kelanjutan hubungan kedua negara. Selain itu, Kementerian Keuangan juga masih perlu melihat perkembangan harga minyak mentah ke depan kalau sewaktu-waktu ketegangan meningkat.
"Belum (ada perubahan alokasi). Kami juga baru jalan kan, APBN baru jalan 15 hari. Kami lihat ke depan," ujarnya, Selasa (14/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada akhir tahun, pemerintah memperkirakan asumsi ICP berada di angka US$63 per barel. Kemudian, asumsi lifting minyak 755 ribu barel minyak per hari dan lifting gas 1,19 juta kiloliter setara minyak per hari.
Kendati begitu, harga minyak mentah di pasar internasional sejatinya sempat melonjak tinggi pada beberapa waktu lalu. Harga minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret naik 31 sen ke level US$68,91 per barel.
Harga minyak mentah di pasar internasional meningkat berkat sentimen ketegangan hubungan AS-Iran. Hubungan keduanya memanas usai kematian perwira tinggi militer Iran Mayor Jenderal Qasem Soleimani akibat serangan drone AS di Baghdad, Irak.
Hal itu kemudian membuat Iran melancarkan serangan rudal balasan kepada pasukan militer AS di Iran. Namun, rudal tersebut rupanya mengenai pesawat Ukraine International Airlines, sehingga menewaskan 176 penumpang.
Kejadian itu membuat mahasiswa Iran turun ke jalan untuk meminta pemerintahnya memberi pertanggungjawaban. Situasi ini kemudian dimanfaatkan Presiden AS Donald Trump untuk ikut menyudutkan Iran dengan meminta rivalnya mengikuti pengusutan salah tembak pesawat tersebut.
[Gambas:Video CNN] (uli/bir)