Institut Keuangan Internasional (Institute of International Finance/IIF) mengungkap utang global tersebut terdiri dari kredit rumah tangga, pemerintah dan korporat, dan meningkat US$9 triliun hingga mencapai US$253 triliun pada September 2019.
Realisasi itu membuat rasio utang terhadap PDB dunia bengkak menjadi 322 persen atau melampaui level tertingginya pada 2016 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
China, misalnya, rasio utang terhadap PDB negara dengan ekonomi kedua terbesar di dunia mendekati 310 persen. Pertumbuhan utang China tercepat di antara negara-negara berkembang lainnya.
Laporan IIF bertajuk Global Debt Monitor melansir, tingkat utang China naik pada 2019. Padahal, pemerintah sempat mendorong perusahaan-perusahaan di China mengurangi utang mereka pada 2017-2018 lalu.
[Gambas:Video CNN]
Risiko Ekonomi Global
IIF menyatakan tumpukan utang dunia menjadi ancaman nyata bagi ekonomi global. "Didorong oleh suku bunga rendah dan moneter yang longgar, kami memperkirakan total utang dunia akan melampaui UD$257 triliun pada kuartal pertama 2020," imbuh lembaga keuangan yang didirikan oleh 38 bank di negara-negara di dunia.
Diketahui, The Fed, bank sentral AS menurunkan suku bunga acuannya sebanyak tiga kali pada tahun lalu. Begitu pula dengan bank sentral Eropa yang masih memberikan kelonggaran moneter usai krisis keuangan 2008-2009 silam.
Masalah lain yang muncul dalam laporan tersebut adalah kebutuhan mendesak untuk membiayai program perubahan iklim. Belum lagi, program pembangunan berkelanjutan Persekutuan Bangsa-bangsa (PBB) yang diperkirakan membutuhkan investasi US$42 triliun pada 2030 mendatang. (bir/agt)