Sementara, kurs referensi Bank Indonesia (BI) Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) menempatkan rupiah di posisi Rp13.654 per dolar AS atau melemah dibandingkan posisi Jumat (17/1), yakni Rp13.648 per dolar AS.
Sore hari ini, mayoritas mata uang di kawasan Asia terpantau melemah terhadap dolar AS.Tercatat, lira Turki melemah sebesar 0,24 persen, ringgit Malaysia 0,14 persen, peso Filipina 0,05 persen, dan yuan China sebesar 0,04 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ibrahim mengatakan Kementerian Perdagangan AS pada hari Jumat (17/1) lalu menunjukkan peningkatan pendapatan sektor perumahan AS pada bulan Desember 2019 yang jauh di atas perkiraan ekonom, US$1,38 juta.
Selain itu, lanjut Ibrahim, penjualan ritel AS juga meningkat diikuti indeks aktivitas manufaktur yang melambung ke level tertinggi dalam delapan bulan terakhir.
"Data positif mengurangi kemungkinan bahwa Federal Reserve akan memangkas suku bunga ketika bertemu akhir bulan ini," kata Ibrahim saat dihubungi CNNindonesia.com, Senin (20/1).
Menurut Ibrahim, dengan data ekonomi AS sebagian besar optimis sekarang, sebagian besar analis tidak akan mengharapkan bank sentral AS untuk memulai babak baru pemotongan suku bunga, kecuali jika perang perdagangan kembali terjadi.
Dari sisi domestik, Ibrahim melihat pasar cenderung hati-hati dalam menanti Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dilaksanakan pada 22-23 Januari mendatang.
"Ada proyeksi Bank Indonesia akan kembali memangkas suku bunga acuan sebesar 25 persen menjadi 4,75 persen, walaupun banyak pengamat yang mengatakan Bank Indonesia masih akan tetap mempertahankan suku bunga acuan di 5 persen akibat penguatan mata uang rupiah yang begitu tajam," ungkapnya.
Lebih lanjut, Ibrahim memprediksi rupiah berpotensi bergerak di kisaran Rp13.620 hingga Rp13.660 per dolar AS pada perdagangan Selasa (21/1) esok hari.
[Gambas:Video CNN]
(ara/sfr)