Tahap wawancara menjadi kesempatan perusahaan untuk lebih mengenal dan mengukur kompetensi pelamar. Pada tahap ini, pelamar akan berusaha menampilkan versi terbaik dirinya kepada perusahaan melalui orang yang mewawancarainya.
Seiring perkembangan teknologi, proses wawancara tak lagi harus dilakukan secara langsung atau tatap muka. Beberapa perusahaan besar di Amerika Serikat (AS), sudah menerapkan model seleksi dengan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI).
Dilansir dari CNN, konsultan karir di beberapa universitas terkemuka di AS sudah menyiapkan mahasiswanya untuk mengetahui peran kecerdasan buatan dalam proses seleksi karyawan baru dan bagaimana cara menaklukkannya.
Di AS, jasa perekrutan itu salah satunya ditawarkan oleh HireVue. Wawancara kandidat dapat dilakukan via telepon pintar maupun laptop dengan pertanyaan yang sudah disiapkan oleh klien . Mesin akan merekam selama wawancara berlangsung.
Hasil rekaman lalu dianalisis menggunakan algoritma program tertentu. Program tersebut akan melakukan seleksi misalnya berdasarkan penggunaan kata, struktur kalimat, ekspresi wajah dan intonasi suara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, sistem kecerdasan buatan itu dinilai belum sepenuhnya teruji dalam mengevaluasi pelamar.
Tak ayal, ia ragu suatu perusahaan mempunyai sistem yang dapat menganalisa ekspresi wajah untuk menilai kecocokan seseorang terhadap suatu pekerjaan.
Sarah Ali mengaku telah menjalani delapan wawancara untuk berbagai perusahaan di bidang teknologi dan pemasaran melalui HireVue. Lulusan Duke University ini berhasil mendapatkan kesempatan magang pada wawancara yang pertama. Namun, wawancara lainnya gagal membawanya ke pekerjaan tetap.
Ali mengaku akan melakukan wawancara dengan cara yang berbeda jika ia mengetahui dari awal wawancara itu melibatkan kecerdasan buatan. Misalnya, ia akan menggunakan kata kunci tertentu dan menjaga kontak mata dengan kamera.
"Saat saya memahami proses wawancara dengan kecerdasan buatan, saya akan mulai memikirkannya sebagai sebuah permainan dan bagaimana saya bisa mengoptimalkan kompetensi maupun gerak tubuh tertentu," ujarnya.
CEO HireVue Kevin Parker mengungkapkan perusahaan dapat melakukan wawancara terhadap 1 juta orang per tiga bulan. Menurut Parker, kecerdasan buatan dapat membuat proses wawancara lebih cepat, adil, dan konsisten.
"Kami kemungkinan melakukan wawancara terhadap 1 juta mahasiswa tahun ini," ujar Parker kepada CNN Business.
HireVue, sambungnya, mulai menggunakan kecerdasan buatan sejak 2014 untuk membantu korporasi menyeleksi video wawancara yang masuk.
Algoritma program akan menilai penggunaan kata, lafal, dan ekspresi wajah untuk menentukan potensi pelamar memiliki kompetensi yang diinginkan klien seperti empati dan keinginan untuk belajar.
Menyiasati perubahan itu, Asisten Direktur Pusat Karir Duke University Meredith Cook mulai mengenalkan keterlibatan kecerdasan buatan kepada mahasiswanya.
Ia mulai melatih mahasiswa untuk menaklukkan proses wawancara dengan keahlian seperti cara mengarahkan kamera dan menghabiskan waktu berbicara di depan laptop.
"Dengan kecerdasan buatan, kami tidak tahu apa yang kami cari," ujar McCook.
[Gambas:Video CNN]
Hal sama juga dilakukan Asisten Direktur Pusat Karir UNC Charlotte AS Matthew French. Tahun ini, universitas akan meminta informasi dari perusahaan mitra terkait penggunaan kecerdasan buatan dalam proses rekrutmen.
"Apa yang saya khawatirkan tentang kecerdasan buatan adalah AI tidak dapat menilai hati dan dorongan yang dimiliki oleh seseorang," keluhnya. (sfr)