Mengutip Antara, minyak mentah berjangka Brent urun US$1,37 atau 2,3 persen menjadi US$59,32 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) melemah US$1,05 atau 1,9 persen ke level US$53,14 per barel. Ini merupakan posisi terendah sejak 2 Oktober 2019 lalu.
Pasar khawatir bertambahnya korban terjangkit Virus Corona akan mengurangi aktivitas perjalanan di negara Tirai Bambu. Kondisi ini dapat memicu perlambatan permintaan minyak mentah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun demikian, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab, dua sekutu dalam Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) mencoba untuk mengecilkan dampak Virus Corona pada harga minyak mentah. Pemimpin OPEC secara de-facto mengatakan kelompok itu dapat menanggapi setiap perubahan permintaan minyak mentah.
Sementara itu, Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman Al-Saud mengatakan ia meyakini Virus Corona dapat diatasi.
[Gambas:Video CNN]
Sumber OPEC mengatakan ada "diskusi awal" di antara OPEC+ untuk perpanjangan pemotongan pasokan minyak di luar pengiriman Maret. Terbuka kemungkinan pemotongan pasokan lebih dalam jika penyebaran virus China berdampak pada permintaan minyak.
Sebagai informasi, OPEC+ merupakan organisasi yang terdiri dari negara anggota OPEC dan sekutunya termasuk Rusia. OPEC+ telah menahan pasokan untuk mendorong harga minyak selama hampir tiga tahun.
Pada awal tahun mereka sepakat meningkatkan pengurangan produksi sebesar 500 ribu barel per hari (bph) menjadi 1,7 juta barel per hari hingga Maret 2020.