Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim menyatakan restrukturisasi utang merupakan upaya yang dilakukan perseroan demi menyelamatkan Krakatau Steel. Sebab, perusahaan pelat merah itu mencatatkan kerugian selama 8 tahun berturut-turut sejak 2012 hingga 2019.
Pada kuartal III 2019 Krakatau Steel membukukan kerugian sebesar US$211,91 juta atau Rp2,97 triliun (dengan asumsi kurs Rp14ribu per dolar AS). Sementara untuk 2018 meski mencatat peningkatan volume penjualan sebesar 24,44 persen pada semester I, namun sepanjang 2018 Krakatau Steel masih menumpuk utang sebesar US$74,82 atau Rp1,05 triliun (dengan asumsi kurs Rp14ribu per dolar AS).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski baru dilaksanakan sekarang namun rencana restrukturisasi utang di perusahaan yang berdiri sejak 1970 ini telah dicanangkan oleh Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) sebelumnya Rini Soemarno.
Silmy mengatakan bahwa restrukturisasi utang pertama dan terbesar ini telah dimulai sejak 20 Desember 2018.
Sementara pada 29 Desember 2019, PT Bank DBS Indonesia dan PT Bank OCBC NISP Tbk mengawali perjanjian aksesi terhadap perjanjian induk restrukturisasi. Dan terakhir pada 12 Januari 2020 dua bank swasta yaitu Standard Chartered Indonesia dan PT CIMB Niaga Tbk ikut dalam perjanjian induk tersebut.
Berikut adalah total pinjaman Krakatau Steel :
1. PT Bank Mandiri (Persero) Tbk : US$618.288.941
2. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk : US$425.924.860
3. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk : US$337.391.891
4. PT Bank CIMB Niaga Tbk : US$238.336.921
5. PT Bank OCBC NISP Tbk : US$138.659.862
6. PT Bank ICBC Indonesla : US$44.269.390
7. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia :US$79.832.618
8. PT Bank DBS Indonesia : US$48.617.012
9. Standard Chartered Bank : US$25.620.928
10. PT Bank Central Asia Tbk : US$48.693.599
Total : US$2.005.636.024
[Gambas:Video CNN]
(wel/age)