Kepala Bidang Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan (P2HP) Dinas Perkebunan Sumsel Rudi Arpian mengungkapkan, harga karet Sumsel sejak awal Januari fluktuatif cenderung stagnan yang berkisar antara Rp16-17 ribu per kilogram untuk kadar karet kering (KKK) 100 persen. Namun, memasuki pekan ketiga Januari, harga karet terus menurun.
Tercatat penurunan terus terjadi sejak 21 Januari 2020. Pada 20 Januari, harga karet tercatat Rp17.151 per kilogram, turun menjadi Rp16.290 per kilogram pada 24 Januari. Pada Selasa 28 Januari, harga sempat naik Rp51 menjadi Rp16.312.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rudi menjelaskan, harga karet sepanjang pada 2020 sempat diprediksi naik 1,5 persen karena peningkatan permintaan untuk industri ban. Pulihnya perdagangan Amerika Serikat dengan China beberapa waktu lalu mempengaruhi hal tersebut.
Kendati demikian, merebaknya wabah virus corona di China membuat kegiatan ekonomi terganggu. Imbasnya pertumbuhan ekonomi diprediksi melandai dan menyebabkan permintaan karet dari China ke Indonesia berkurang.
Dinas Perkebunan akan melakukan upaya untuk membantu petani bisa bertahan dari harga karet yang rendah saat ini. Pihaknya akan memberikan bantuan bibit unggul berproduktivitas tinggi, membantu alat pasca panen dan bangunan Unit Pengolahan Hasil (UPH) di lima daerah. Dinas perkebunan pun akan menganjurkan petani untuk menanam tanaman sela sebagai tambahan pendapatan.
"Upaya lain yang bisa dilakukan yakni hilirisasi karet dan dan pembuatan inovasi yang dapat mendorong peningkatan konsumsi karet alam dalam negeri. Serapan karet nasional harus ditingkatkan seperti proyek jalan aspal karet yang harus diperluas," ujar dia.
Sementara itu Gubernur Sumsel Herman Deru berujar, pihaknya akan mencari solusi dengan mencari negara tujuan ekspor lain untuk menekan penurunan harga karet yang diimpor oleh China.
[Gambas:Video CNN]
Lebih lanjut, ia berharap Virus Corona bisa segera diantisipasi dan ditemukan obatnya.
"Sangat wajar jika di sebuah negara yang sedang dilanda wabah, ekonominya stuck. Setiap ada kejadian ekstrem selalu berdampak, mudah-mudahan bisa berlalu dengan cepat," ujar Herman. (idz/sfr)