Bantah Istimewakan China, Luhut Sebut Uang Tak Bertuhan

CNN Indonesia | Jumat, 31/01/2020 08:52 WIB
Menko Luhut menegaskan Indonesia membuka peluang investasi dari negara manapun asal saling menguntungkan. Menko Luhut kesal kerap dibilang mengistimewakan investasi dari China. (CNN Indonesia/Bisma Septalisma).
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan kembali mengungkapkan kekesalannya karena seringkali dianggap selalu memberikan keistimewaan untuk investasi dari China.

Luhut menyatakan pemerintah mengedepankan skema yang terbaik untuk setiap investasi yang masuk ke dalam negeri. Kebetulan, China kerap menawarkan skema business to business (b to b).

Artinya, kesepakatan investasi tak semata-mata berada di tangan pemerintah, tapi lebih kepada perusahaan dari China dan perusahaan asal Indonesia yang akan melakukan kerja sama.


Kondisi tersebut berbeda dengan Jepang yang cenderung mengedepankan skema government to government (g to g). Skema ini biasanya memberatkan negara karena menambah pencatatan utang dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Yang paling banyak minta government guarantee itu Jepang. China belum. Semua b to b. Tapi orang ribut bilang komunis komunis saja. Urusannya apa. Uang itu tidak bertuhan itu," ungkap Luhut, Kamis (30/1).

Luhut menegaskan pemerintah akan selalu membuka investasi dari negara mana pun asalkan saling menguntungkan kedua belah pihak. Jika memberatkan Indonesia, tentu pemerintah akan berpikir ulang.

"Jadi kadang-kadang tidak rasional. Mau China, mau komunis, mau kapitalis, mau apa. Ya asal ada interest nya saja," tegas Luhut.

Sebagai informasi, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi dari China ke Indonesia mencapai US$4,74 miliar pada 2019. Capaian ini naik dua kali lipat dari sebelumnya US$2,37 miliar pada 2018.

[Gambas:Video CNN]

Kepala BKPM Bahlil Lahadalia sebelumnya mengatakan investasi dari China meningkat karena Negeri Tirai Bambu itu tengah agresif memborong berbagai proyek pembangunan infrastruktur yang ditawarkan oleh Indonesia. Padahal, Bahlil mengklaim tawaran proyek ini sejatinya juga diberikan ke negara-negara lain.

"Kami menawarkan investasi ke semua negara. Indonesia tidak memberi prioritas hanya untuk China, tapi China lebih agresif. Mereka berani, bos," ujar Bahlil.

Menurutnya, agresivitas China terlihat dari berbagai jenis proyek yang digarap mereka. Proyek yang dimaksud dari hilirisasi industri hingga infrastruktur di Tanah Air.

(aud/sfr)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK