"Menjadi tidak bertanggung jawab jika memberikan spekulasi terhadap hal yang belum terjadi," ujarnya, seperti yang dikutip dari AFP, Jumat (31/1).
Georgieva menceritakan pengalaman epidemi SARS pada 2002-2003, yang memperlambat pertumbuhan dalam jangka pendek. Namun, kemudian ekonomi memperbaiki dirinya sendiri. Saat epidemi SARS terjadi, ekonomi China sedang dalam kondisi prima. Berbeda dengan saat ini, China sedang memperbaiki kondisi usai konflik perdagangan dengan AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, Juru Bicara IMF Gerry Rice mengatakan kepada wartawan, IMF sedang memantau situasi perekonomian dan membaca indikator ekonomi secara real-time.
"Jika rantai pasokan global secara sistematis dipengaruhi atau pasar keuangan global secara signifikan dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian, maka jelas dampaknya akan lebih besar," kata Rice.
Saat ini, wabah virus Corona telah membuat hampir 8.000 orang sakit di China dengan angka kematian mencapai 213 orang. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan keadaan darurat internasional.
Virus Corona telah membuat sebagian bisnis dan pabrik tutup sementara. Sebagian maskapai penerbangan di seluruh dunia telah membatalkan penerbangan. Hal tersebut menimbulkan kekhawatiran tentang pukulan terhadap ekonomi China dan seterusnya.
[Gambas:Video CNN]
(age/sfr)