Tidak cuma manufaktur, pertumbuhan bisnis Apple juga banyak ditopang oleh konsumen China. Karenanya, Sejumlah analis mengkhawatirkan wabah virus corona yang berkepanjangan dapat menekan produksi dan penjualan Apple.
Diketahui lebih dari 170 orang meninggal dunia terkait virus corona dengan kasus orang terjangkit dilaporkan mencapai 7.700. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan resmi menetapkan status gawat darurat terhadap wabah virus corona.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilustrasi: CNN Indonesia/Fajrian |
Dilansir dari CNN Business, pada awal pekan ini, Apple memperkirakan membukukan pendapatan antara US$63 miliar-US$67 miliar pada kuartal I 2020. Target perolehan telah memperhitungkan ketidakpastian yang diakibatkan oleh epidemi virus corona di China.
Maklumlah, penularan virus corona yang masih dikhawatirkan saat ini memaksa kegiatan ekonomi di China terhenti, meski libur Tahun Baru Imlek diperpanjang sampai 2 Februari. Banyak toko-toko tutup sampai batas waktu yang belum ditentukan.
Bahkan, akses keluar masuk Wuhan, pusat epidemi berasal, ditutup, termasuk juga kota-kota di sekitar Provinsi Hubei, China. Moda transportasi, pesawat, kereta, maupun bus antar kota dan antar provinsi juga dihentikan sementara.
[Gambas:Video CNN]
Pusat Manufaktur
Ritel-ritel AS yang telah menghentikan operasional mereka sementara waktu, antara lain Starbucks, Pizza Hut, dan McDonald's. Apple sendiri memperkirakan penjualannya akan terdampak paling tidak 15 persen karena ancaman virus corona mempengaruhi bisnis.
Namun, tak seperti ritel-ritel lainnya, CEO Apple Tim Cook mengaku lebih khawatir gangguan manufaktur di China yang dapat berakibat pada produksi Apple. Sebab, manufaktur Apple berpusat di China, tak terkecuali mitra pemasok di Wuhan.
Foxconn, salah satu mitra manufaktur utama Apple untuk produksi iPhone menyebut, pihaknya mengikuti jadwal libur yang ditetapkan Pemerintah China. Artinya, Foxconn tidak berencana menutup pabrik setelah 2 Februari nanti.
Ilustrasi: CNN Indonesia/Fajrian |
Analis Synovus Trust Company Daniel Morgan menuturkan Foxconn mengaku memiliki pengalaman menangani produksi manufaktur setelah epidemi SARS pada awal 2003 silam. Pernyataan ini tentu menjadi pertanda baik bagi Apple.
"Jadi, jika Anda melihat bahwa Foxconn bermasalah, itu berarti menjadi indikasi bahwa Apple juga akan memiliki masalah. Jika mereka melakukannya (menutup pabrik), ya mungkin ada beberapa risiko," tandas Morgan. (khr/bir)
Ilustrasi: CNN Indonesia/Fajrian
Ilustrasi: CNN Indonesia/Fajrian