"(Indonesia) sudah terdampak. Seperti Bali, sekarang sudah drop (turun) sekali kalau bicara soal pariwisata. Pariwisata itu yang paling terpukul, artinya terasa sekali dampaknya," kata Hariyadi di Gedung DPR RI, Senin (3/2).
Menurut Hariyadi, China telah menjadi salah satu kontributor besar dari sisi kunjungan pariwisata di Indonesia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sayangnya, Hariyadi belum dapat memastikan seberapa kerugian yang dialami oleh para pengusaha atas berkurangnya kunjungan tersebut.
"Kalau melihat dari pernyataan rekan-rekan Kabupaten Badung, untuk (hotel) bintang tiga yang memang itu biasanya lumayan banyak di bulan-bulan ini, adalah bulan-bulan low season-nya bali. Kalau low season, bisa dapat 40 persen (total turis, tapi mungkin sekarang di bawah 30 (total turis) persen," ungkapnya.
Tak hanya dari sisi bisnis, Hariyadi juga menilai dampak virus akan kena ke sektor ekspor dan impor barang Indonesia terutama terhadap China. Ia menilai, permasalahan utama terletak pada kegiatan administrasi.
"Misalkan impor, tapi pabrik di sana banyak yang di-shut down (tutup). Karena liburan Imleknya juga diperpanjang, dari segi produksinya bermasalah. Terus, barang yang mau diekspor ke sana itu juga masalah, mau gimana? pesawat juga gak ada," jelasnya.
Menurut Hariyadi, banyak produk Indonesia yang mengalami perlambatan dalam proses ekspor ke China karena wabah tersebut, seperti barang-barang komoditas, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), dan barang jenis mineral seperti nikel dan sebagainya.
Hariyadi pun meminta pemerintah untuk secepatnya bertindak terkait permasalahan tersebut. Pasalnya, Ia tak yakin penyebaran virus dapat terkendali dalam waktu yang dekat
"Kalau menurut saya harus dikoreksi, karena belum tahu akan berakhir berapa lama. Apabila berkaca dengan (wabah penyakit) SARS, itu dampaknya gak secepat ini (Virus Corona). Itu saja butuh enam bulan baru dapat terkendali," pungkasnya.
Sebelumnya, Divisi Market Tiongkok, Association of The Indonesian Tours And Travel Agencies (Asita) Bali, Elsye Deliana mengatakan, pihaknya telah mencatat paling tidak sekitar 15 ribu wisatawan asal China batal melakukan kunjungan ke Pulau Bali akibat penyebaran Virus Corona.
"Itu data dua hari yang lalu, kami masih terus melakukan pendataan. Namun hal ini patut kami sayangkan karena padahal di bulan Februari ada banyak grup insentif wisatawan mancanegara asal China yang akan ke Bali. Ada yang mencatat 1.000 orang, 2.000 orang, 5.000 orang itu semua sementara dibatalkan," katanya.
[Gambas:Video CNN]
(ara/age)