Sampai saat ini, Indonesia masih berstatus bebas dari virus tersebut. Namun demikian, dampak virus tersebut sudah dirasakan dari sisi perekonomian negeri, terutama pada sektor pariwisata.
Hal itu salah satunya tercermin dari kunjungan wisatawan China ke Nusa Penida, Bali yang dikabarkan menurun seiring kabar wabah virus kian menyebar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Misalkan impor, tapi pabrik di sana banyak yang di-shut down (tutup). Karena liburan imleknya juga diperpanjang, dari segi produksinya bermasalah. Terus, barang yang mau diekspor ke sana itu juga masalah, mau gimana? Pesawat juga gak ada," jelasnya.
Menurut Hariyadi, banyak produk Indonesia yang akhirnya mengalami perlambatan dalam proses ekspor ke China beberapa waktu terakhir, seperti barang-barang komoditas, minyak kelapa sawit (Crude Palm Oil/CPO), dan barang jenis mineral seperti nikel dan sebagainya.
Terlebih, pemerintah sendiri sudah melarang warga negara China yang merupakan salah satu kontributor terbesar dari sektor pariwisata di Indonesia.
"Pariwisata di Indonesia ini sudah cukup tinggi porsinya, itu sekitar 6 sampai dengan 7 persen (perekonomian) sudah dikontribusikan dari pariwisata Indonesia. Artinya, kalau ada travel (perjalanan) yang tertunda serta tidak bisa dijalankan dalam waktu 2 bulan saja, itu sudah berpengaruh terhadap satu per enam dari perjalanan yang sudah ada,"
Selain sisi pariwisata, Yose juga mengkhawatirkan terkait dampak menengah panjang yang dapat dialami Indonesia.
Virus Corona telah menyebar ke berbagai negara. (CNN Indonesia/Fajrian). |
"Banyak yang memperkirakan bahwa pertumbuhan perekonomian China itu bisa melambat hingga 1 sampai dengan 1,5 persen (akibat virus Corona)," pungkasnya.
Solusi
Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati juga menilai ancaman yang besar menunggu pertumbuhan perekonomian Indonesia apabila hubungan dagang antara kedua negara terhalang oleh virus tersebut.
Di samping kegiatan ekspor dan impor yang berpotensi meloyo, Eni juga turut mengkhawatirkan kondisi psikologis pasar. Dalam hal ini, pasar dapat lebih selektif dalam membeli suatu barang, sehingga membuat nilai konsumsi menurun.
Untuk menanggulangi hal tersebut, Enny menganjurkan pemerintah harus segera bertindak untuk mengintervensi potensi tersebut.
Menurut Enny, langkah awal yang harus diambil pemerintah adalah memastikan keamanan dengan meningkatkan penjagaan perbatasan untuk mencegah masuknya Virus Corona ke dalam negeri.
Langkah selanjutnya, lanjut Enny, adalah dengan memitigasi dampak negatif terhadap sektor pariwisata dalam negeri. Dalam hal tersebut, Eni mengatakan bahwa pemerintah harus segera mencari solusi untuk mempertahankan produktivitas daerah-daerah yang memiliki ketergantungan terhadap sektor pariwisata.
"Contohnya itu dengan regulasi dan kepastian keamanan yang baik, itu pasti akan membuat tenang. Kalau turis datang ke Indonesia saja, misalnya di terminal internasional, thermoscanner-nya (alat pendeteksi panas) saja enggak ada, pasti orang sudah ragu. Minimal akan berlama-lama di Indonesia juga tidak yakin," tuturnya.
Enny juga mengingatkan pemerintah untuk secepatnya mengembangkan dan mengantisipasi penurunan harga komoditas, seperti melakukan hilirisasi industri dalam negeri sebagai substitusi impor barang China. Dengan demikian, ancaman permasalahan psikologis masyarakat pun juga dapat terselesaikan.
[Gambas:Video CNN]
"Artinya perlu berbagai macam insentif untuk UMKM-UMKM dalam negeri, untuk memanfaatkan momentum ini, untuk bisa bersaing dengan barang-barang yang selama ini penetrasi impor dari China," jelasnya.
Pada Minggu (2/2) lalu, pemerintah telah memulangkan 243 WNI dari Wuhan di Provinsi Hubei, China yang terdiri dari 240 orang dewasa dan 3 orang anak kecil
Selain itu, pemerintah untuk sementara waktu melarang warga negara China masuk ke Indonesia. Regulator juga menutup penerbangan dari dan ke daratan utama China mulai Rabu (5/2).
Virus Corona telah menyebar ke berbagai negara. (CNN Indonesia/Fajrian).