Capaian tersebut juga lebih rendah dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar 5,3 persen.
Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 di bawah 5 persen, yakni hanya 4,97 persen dibandingkan dengan kuartal IV 2018 lalu. Sementara, pertumbuhan ekonomi kuartal IV 2019 terhadap kuartal III 2019 minus 1,74 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menjabarkan ekonomi AS hanya tumbuh 2,3 persen pada kuartal IV 2019, melambat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,5 persen. Sementara, Singapura hanya tumbuh 0,8 persen dari sebelumnya yang mencapai 1,3 persen dan Korea Selatan hanya 2,2 persen dari 3 persen.
Dari sisi lapangan usaha, Suhariyanto menyatakan sektor jasa lainnya mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 10,55 persen secara tahunan. Namun, karena porsinya terhadap PDB hanya sekitar 1,95 persen, kontribusinya tak signifikan mendongkrak pertumbuhan ekonomi.
[Gambas:Video CNN]
Sementara itu, porsi sektor manufaktur masih dominan terhadap PDB dengan nilai 19,7 persen. Kendati demikian, pertumbuhannya hanya tercatat 3,8 persen, melambat dari posisi 2018 yang mencapai 4,27 persen.
Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat hanya 5,05 persen. Menurutnya, perlambatan ini dipengaruhi kondisi global yang juga memburuk beberapa waktu terakhir.
Sejumlah sentimen negatif yang menghantui ekonomi dunia, antara lain perang dagang Amerika Serikat (AS) dan China, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit), hingga pemakzulan Presiden AS Donald Trump.