Kepala BPS Suhariyanto mengatakan tingkat konsumsi rumah tangga khusus kuartal IV 2019 hanya 4,97 persen. Angkanya jauh lebih lambat ketimbang pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal IV 2018 yang masih tembus 5 persen, tepatnya 5,08 persen.
Dengan realisasi itu, Suhariyanto menyatakan pihaknya mewaspadai penurunan daya beli masyarakat beberapa waktu terakhir. Masalahnya, pertumbuhannya memang tak sekuat sebelum-sebelumnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dulu masyarakat sering ganti-ganti baju untuk Natal dan Tahun Baru. Sekarang sepertinya tidak," ucap Suhariyanto.
Lalu, konsumsi transportasi dan komunikasi naik 4,78 persen atau melambat dari sebelumnya 5,47 persen. Suhariyanto bilang perlambatan konsumsi di sektor transportasi salah satunya karena penjualan wholesale sepeda motor dan mobil penumpang masing-masing minus sebesar 5,6 persen dan 7,24 persen.
Sementara, untuk konsumsi di sektor perumahan dan perlengkapan rumah tangga tumbuhnya tercatat 4,66 persen atau lebih tinggi dari sebelumnya yang sebesar 4,63 persen. Kemudian, konsumsi kesehatan dan pendidikan juga lebih tinggi menjadi 6,6 persen dari 5 persen.
Konsumsi rumah tangga memiliki pengaruh terbesar dalam pertumbuhan ekonomi 2019. Kontribusinya mencapai 56,62 persen.
Penyumbang ekonomi domestik lainnya berasal dari konsumsi pemerintah sebesar 8,75 persen dengan tingkat pertumbuhan 3,25 persen, konsumsi lembaga non profit rumah tangga (LNPRT) yang memiliki andil 1,3 persen dengan pertumbuhan 10,62 persen dan impor yang mengurangi pertumbuhan ekonomi 22,03 persen dengan pertumbuhan yang minus 7,69 persen.
Secara keseluruhan, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2019 hanya 5,02 persen. Realisasi tersebut melambat dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 5,17 persen. Capaian tersebut juga lebih rendah dari asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2019 yang sebesar 5,3 persen.
[Gambas:Video CNN]
(aud/age)