Airlangga Sebut Ekonomi Papua Tak Bergantung Freeport di 2024

CNN Indonesia | Jumat, 07/02/2020 12:53 WIB
Menko Airlangga Hartarto menyebut ekonomi Papua tak bergantung pada Freeport, setelah Kawasan Industri Bintuni terbangun. Airlangga Hartarto menyatakan Papua akan melepaskan ketergatungan ekonomi mereka pada Freeport pada 2024. (ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memprediksi ekonomi Papua bisa lepas dari ketergantungan terhadap bisnis PT Freeport Indonesia (PTFI) dalam tiga sampai empat tahun ke depan. Itu artinya, Papua baru diharapkan bisa mandiri pada 2023 atau 2024.

Waktu lama tersebut dibutuhkan karena ketergantungan ekonomi Papua terhadap komoditas sangat tinggi. Kebetulan, dari sisi komoditas, bisnis tambang PTFI merupakan yang terbesar dan memberikan dampak signifikan terhadap ekonomi Papua.

"Memang ada ketergantungan (dengan Freeport)," ucap Airlangga, Kamis (6/2).


Karena ketergantungan yang besar itulah, tak heran penurunan produksi Freeport beberapa waktu terakhir membuat ekonomi Papua minus pada kuartal IV 2018 hingga kuartal IV 2019. Ekonomi Papua pada kuartal IV 2018 minus 17,95 persen.

Sementara, ekonomi Papua pada kuartal I 2019 minus 18,66 persen. Kemudian, kuartal II 2019 minus 23,91 persen, kuartal III 2019 minus 15,05 persen, dan kuartal IV 2019 minus 3,73 persen. Secara keseluruhan, ekonomi Papua sepanjang 2019 minus 15,72 persen.

"Iya (ekonomi Papua minus) salah satunya memang karena harga komoditas sedang turun dari Freeport, ada ketergantungan," kata Airlangga.

Agar masalah tersebut tidak terus berlarut-larut, Airlangga mengatakan pemerintah sedang mempercepat pembangunan Kawasan Industri di Teluk Bintuni.

"Makanya kan pemerintah sedang dorong pengembangan kawasan Bintuni untuk industri, untuk methanol dan yang lain," jelas Airlangga.

[Gambas:Video CNN]
Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan ekonomi Papua  minus 15,72 persen pada sepanjang 2019 kemarin. Kondisi tersebut dipicu peralihan tambang terbuka (open pit) ke bawah tanah (underground) milik Freeport.

Pasalnya, peralihan sistem tambang tersebut membuat produksi Freeport merosot.

"Pertumbuhan ekonomi Papua kuartal I sampai kuartal IV 2019 selalu kontraksi. Penyebab utamanya adalah Freeport yang produksinya menurun karena ada peralihan sistem tambang di sana," kata Suhariyanto.

Manajemen Freeport McMoran melaporkan produksi tembaga di Grasberg turun 14 persen dan produksi logam turun 1,7 persen pada kuartal IV 2019. Dengan produksi tersebut, manajemen memperkirakan penjualan tembaga sebanyak 725 juta pon dan emas 105.000 ounce pada kuartal I 2020.

(aud/agt)