Direktur Eksekutif BI Onny Widjanarko mengatakan surplus neraca pembayaran ditopang oleh surplus transaksi modal dan finansial yang meningkat, serta defisit transaksi berjalan yang tetap terkendali.
Dengan begitu, posisi cadangan devisa akhir Desember 2019 mencapai US$129,2 miliar atau naik dari September 2019 yang hanya US$124,3 miliar. Posisi cadangan devisa itu setara dengan pembiayaan 7,6 bulan impor atau 7,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal itu mencerminkan tingginya kepercayaan investor terhadap prospek perekonomian domestik dan imbal hasil aset keuangan domestik yang tetap menarik," imbuh dia.
Sementara, defisit neraca transaksi berjalan pada kuartal IV sebesar US$8,1 miliar (2,84 persen dari Produk Domestik Bruto/PDB). Hal tersebut dikarenakan surplus neraca perdagangan nonmigas yang meningkat, ditopang oleh penurunan impor nonmigas di tengah kinerja ekspor nonmigas yang belum kuat.
Secara keseluruhan, neraca pembayaran sepanjang tahun lalu surplus US$4,7 miliar atau membaik dari tahun sebelumnya yang defisit US$7,1 miliar. Defisit neraca transaksi berjalan sebesar US$30,4 miliar atau 2,72 persen dari PDB atau membaik dari tahun lalu, yaitu 2,94 persen.
serta senantiasa memperkuat koordinasi dengan Pemerintah dan otoritas terkait guna meningkatkan ketahanan sektor eksternal, termasuk mendorong peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA).
"Prospek aliran masuk modal asing juga diperkirakan tetap besar. BI akan terus memperkuat bauran kebijakan guna menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, termasuk mendorong peningkatan Penanaman Modal Asing (PMA)," kata Onny.
[Gambas:Video CNN]
(bir/agt)