Direktur Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian ESDM Bambang Gatot Ariyono menyebut kondisi global membuat asumsi harga batu bara yang ditentukan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar US$90 per ton berpotensi meleset.
Menurutnya, angka tersebut akan sulit dicapai lantaran kondisi harga komoditas yang kian merosot hingga sekarang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tapi ini masih ada peluang untuk direvisi, ketika harga sudah mulai naik. Kalau bisa sampai US$70 per ton, harapannya produksi juga bisa naik," ujar Bambang.
Permasalahan lainnya, Bambang menyebut para pengusaha tambang melihat iklim investasi dalam negeri masih alot. Sebab, terdapat beberapa persoalan kepastian hukum yang memaksa perusahaan tambang memikirkan ulang rencana investasinya.
[Gambas:Video CNN]
"Kendalanya memang juga soal kepastian hukum dan regulasi. Ini berdampak pada rencana investasi perusahaan," ungkapnya.
Sementara itu, harga batubara acuan (HBA) Februari tercatat sebesar US$66,89 per ton. Angka tersebut naik 1,45 persen dibandingkan HBA Januari yang ada di angka US$65,93 dolar per ton.
Kenaikan HBA tersebut dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan batu bara dari tambang di wilayah China yang kini mengalami dampak wabah Virus Corona terparah.
Sementara untuk di komoditas lainnya seperti nikel, Bambang menyebut Virus Corona belum memberikan dampak yang signifikan.