OAG, perusahaan intelijen perjalanan udara yang bermarkas di Inggris, memperkirakan industri penerbangan masih akan terpuruk lebih dalam, mengingat kematian yang disebabkan oleh virus corona telah mencapai 1.100 orang dengan jumlah terinfeksi 42 ribu orang dalam waktu kurang dari dua bulan.
Virus corona pertama kali ditemukan di pusat kota Wuhan, Hubei, China, pada akhir Desember 2019. Virus menyebar cepat di tengah libur panjang perayaan Tahun Baru Imlek. Jumlah nyawa melayang akibat virus corona bahkan sudah melampaui korban sindrom pernafasan akut parah (SARS) pada 2003 silam.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maskapai penerbangan milik China pun, sambung dia, telah merasakan sebagian besar dampaknya. Di antara maskapai-maskapai itu adalah Air China, China Southern Airlines, termasuk maskapai swasta Hainan Airlines.
Juru bicara Eva Airways menuturkan maskapainya berencana mengurangi penerbangan dari dan ke China sampai April 2020 sembari memantau perkembangan wabah virus corona. Perusahaan juga berjanji akan mengembalikan uang tiket yang dipesan langsung melalui perusahaan.
Saat epidemi SARS menyerang 17 tahun lalu, maskapai penerbangan Asia Pasifik kehilangan pendapatan US$6 miliar, karena penangguhan penerbangan di sejumlah wilayah, seperti Singapura, Hong Kong, Taiwan serta kota-kota besar di daratan China.
Kali ini, meskipun potensi kerugian lebih tinggi, namun Lin mengingatkan maskapai akan berusaha lebih keras untuk menekan lonjakan biaya. Antara lain, dengan menawarkan cuti sukarela (tak dibayar), termasuk merumahkan (PHK) sebagian karyawan.
[Gambas:Video CNN]
(bir/agt)