"Global value chain produk kita itu enggak bergantung China, masih (lebih besar) Korea, Jepang. Itu membantu perekonomian nasional. Namun, tentu ini perlu diperkuat lagi," katanya, Kamis (13/2).
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia mayoritas ditopang oleh konsumsi rumah tangga yaitu kurang lebih 56 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan, Kemenko Perekonomian, Iskandar Simorangkir menjelaskan meski dari sisi ekspor, China merupakan pasar terbesar Indonesia namun mayoritas produknya adalah Sumber Daya Alam (SDA).
Kementerian Perdagangan yang menyebutkan produk utama ekspor non migas Indonesia ke China meliputi batu bara muda, minyak kelapa sawit dan turunannya, batu bara, bubur kayu kimia, feronikel, batu bara bitumen, serta bijih nikel, dan konsentrat.
"Kalau itu namanya lepas, jadi dia tidak tergantung global value chain. Kalau kita batu bara itu lepas, jadi kita bisa alihkan ke negara lain," ujarnya.
Ini berbeda dengan negara yang mempunyai ketergantungan global value chain dengan China. Mereka, kata Iskandar, cenderung lebih sulit mencari pasar baru. Sebagai contoh, lanjutnya, adalah produsen komponen mobil yang memasok barang ke China.
Sebelumnya, Sekretaris Kementerian Koordinator Perekonomian Susiwijono Moegiarso menambahkan pemerintah juga mulai mencari alternatif pangsa pasar non tradisional. Harapannya, mampu mengurangi dampak pada ekspor maupun impor dari China.
"Kemudian kami jaga pasokan impor bahan baku industri, jadi teman-teman dari Kemenperin dan Kemendag pasokan industri tetap kami kawal dan tetap jalan. Sementara ini, masih jalan dari China, tetapi kami antisipasi kalau ada perubahan lebih jauh," tutur Susiwijono.
[Gambas:Video CNN]
(ulf/age)