Wabah Corona, Mentan Sebut Pasar Panik Buat Harga Bawang Naik

CNN Indonesia | Selasa, 18/02/2020 06:00 WIB
Wabah Corona, Mentan Sebut Pasar Panik Buat Harga Bawang Naik Mentan Syahrul Yasin Limpo memaparkan para penjual bawang takut kehabisan stok jika impor dari China diberhentikan karena virus corona. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Pertanian (Mentan) Syahrul Yasin Limpo memberikan penjelasan terkait kenaikan harga bawang putih dan bawang merah yang sempat melonjak dalam beberapa waktu terakhir. Ia menyebut lonjakan harga tersebut dikarenakan adanya kepanikan pasar atas wabah virus corona.

Syahrul mengatakan isu tersebut membuat para pendagang menyimpan bawang untuk mengantisipasi kehabisan stok apabila impor dari China dihentikan. Pembeli pun berbelanja lebih cepat akibat panik apabila stok bawang tak akan mencukupi.

"Ini menurut saya ada kepanikan publik, distributor mengurangi jatah ke pasar, karena takut besok, karena corona, tidak ada lagi impor yang bisa masuk. Publik juga seperti itu, karena takut kehilangan bawang putih, sehingga membeli lebih cepat," kata Syahrul saat Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR di Jakarta, Senin (17/2).


Argumen tersebut diperkuat Syahrul lantaran keyakinan lonjakan harga ini terjadi bukan karena ketersediaan bawang yang mengalami penurunan. Pasalnya, ia mengungkap bahwa ketersediaan bawang putih dalam negeri masih mencukupi.

"Sebenarnya dalam data kami itu stoknya cukup. Yang mengherankan, kenapa tiba-tiba terjadi lonjakan harga seperti itu," ungkapnya.

Berdasarkan paparannya, stok bawang putih masih berjumlah sebesar 120 ribu ton. Ditambah lagi, dalam waktu dekat ini, Indonesia akan memasuki musim panen yang diprediksi mampu memproduksi hingga 30 ribu ton bawang putih.

Dengan demikian ia pun merasa optimis stok bawang putih akan tercukupi hingga 3 bulan mendatang.

"Data yang ada pada kami adalah sebanyak 120 ribu ton masih ada di tangan importir. Kemudian kami akan panen pada bulan Maret sampai April itu kira-kira (menghasilkan) 30 ribu ton. Penggunaan per bulan adalah 47 ribu ton lebih, kalau begitu daya tahan bisa sampai 3 bulan ke depan," jelasnya.

Dalam mengantisipasi permasalahan lonjakan harga itu, Syahrul menyebut pihaknya telah mengeluarkan Rekomendasi Impor Produk Hortikultura (RIPH) pada Januari 2020 lalu sebagai alternatif pasar untuk mengimpor bawang putih dari negara lain selain China. Ia berharap, langkah tersebut dapat setidaknya mengurangi peningkatan harga bawang yang tinggi di pasar.

"Tapi karena desakan yang ada, kami mengeluarkan RIPH. Ini sudah keluar, mudah-mudahan ini bisa jadi langkah yang mungkin bisa mengurangi lonjakan harga," pungkasnya.

[Gambas:Video CNN]


(ara/age)