Pada rapat dengar pendapat dengan PT Wijaya Karya (Persero), PT Hutama Karya (Persero), PT Waskita Karya (Persero) Tbk, PT Adhi Karya (Persero) Tbk, dan PT Pembangunan Perubahan (Persero) Tbk tersebut Mufti mempertanyakan perencanaan yang dilakukan oleh perusahaan pelat merah tersebut.
"Tol layang Jakarta-Cikampek kilometer 9-28 adalah tol terburuk yang pernah saya lalui, membahayakan, ada 4 sampai 5 kendaraan yang mengalami kecelakaan, kenapa bisa terjadi?" ungkap anggota dari fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di kesempatan yang sama, anggota DPR dari fraksi Gerindra Zuristyo heran dengan tingginya material baja dan besi yang diimpor oleh perusahaan-perusahaan pelat merah itu. Dia menyebut 90 persen dari bahan baku baja dan besi BUMN konstruksi diimpor dari luar.
Dia mengatakan penggunaan bahan baku industri murah dari luar mematikan perusahaan BUMN lainnya seperti PT Krakatau Steel (Persero) yang memproduksi baja.
Lihat juga:Pembangunan MRT Jakarta Fase 2A Selesai 2024 |
Seperti diketahui pada Januari lalu PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melakukan restrukturisasi utang perseroan setelah perusahaan menunggak sebesar US$2,2 mliar atau setara Rp30 triliun (kurs Rp13.663 per dolar As) per kuartal III 2019.
Restrukturisasi utang terbesar yang melibatkan 10 bank nasional, bank swasta nasional dan bank swasta asing tersebut ditempuh demi menyelamatkan perseroan dari kebangkrutan. Diproyeksikan dengan proses ini utang perseroan akan lunas pada 2027.
"Proyek restrukturisasi ini akan berlangsung selama sembilan tahun, jangka panjang. Diharapkan operasi perusahaan menjadi lebih baik," ujar Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim beberapa waktu lalu.
[Gambas:Video CNN]
(wel/age)