"Tentu terlalu awal untuk memastikan angkanya (dampak virus corona ke ekonomi Indonesia) karena kita belum tahu berapa lama dan bagaimana akhirnya. Namun, kita bisa belajar dari kasus SARS 2003," ujar menteri keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini seperti dikutip dari akun resmi Twitter @ChatibBasri pada Rabu (19/2).
Berdasarkan catatannya, ketika SARS merebak pertumbuhan ekonomi China turun dari 11 persen pada kuartal I 2003 turun ke 9 persen pada kuartal II 2003. Namun, setelah kepanikan mereda, ekonomi China kembali melaju 10 persen pada kuartal III dan IV 2003.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hal yang harus diantisipasi adalah penurunan ekspor, menurunnya impor yang bisa mengakibatkan kenaikan harga bisa barangnya tak tersedia di domestik, atau menurunnya barang modal," jelasnya.
Untuk itu, ia menilai pemerintah perlu mengantisipasi ini dengan mendorong sumber pertumbuhan domestik.
Selain itu, program Kartu Prakerja untuk kelas menengah juga dapat menjadi bantalan. Misalnya, dalam bentuk cash for training yang akan membantu menjaga daya beli.
"Berikan diskon untuk tiket pesawat atau transportasi selama beberapa bulan untuk mendorong pariwisata. Ketika wisman terganggu, maka dorong wisatawan domestik," jelasnya.
Menurut Chatib, defisit anggaran pemerintah tidak masalah jika dinaikkan demi mendorong pertumbuhan. Kendati demikian, pemerintah perlu memperhatikan kualitas belanja agar benar-benar berdampak pada pertumbuhan.
[Gambas:Twitter]
Selain itu, sambungnya, pemerintah perlu mengkaji kembali insentif pajak yang sudah diberikan apakah efektif. Sebagai catatan, pemerintah telah menggelontorkan belanja pajak hingga Rp230 triliun atau 1,5 persen dari Pendapatan Domestik Bruto (PDB).
"Review kembali apakah ini ternyata mampu mendorong growth (pertumbuhan ekonomi). Jika tidak, evaluasi mengapa tidak efektif dan ubah skemanya agar menjadi efektif," ujarnya.
Lebih lanjut, Chatib juga mengingatkan jika ekonomi global melemah, Bank Sentral AS The Federal Reserves (The Fed) kemungkinan akan menurunkan suku bunga. Apabila permintaan domestik mulai bergerak dan inflasi terkendali, penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia akan efektif.
"Memang terlalu pagi untuk menyimpulkan tetapi langkah-langkah antisipasi untuk mendorong daya beli dan perekonomian domestik perlu disiapkan segera," ujarnya.