'Infeksi' terlihat dari perlambatan penerimaan perpajakan hingga kepabeanan dan cukai pada awal tahun ini. Menteri Keuangan Sri Mulyani memaparkan penerimaan perpajakan pada Januari 2020 sebesar Rp84,7 triliun.
Realisasi itu turun dibandingkan dengan periode sama tahun sebelumnya yang masih bisa mencapai Rp90 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi jenis penerimaan pajak, PPh 22 impor turun 7,43 persen menjadi Rp4,3 triliun. Kemudian, penerimaan PPh badan merosot 29,34 persen menjadi Rp6,92 triliun, PPh 26 turun 18,66 persen menjadi Rp3,6 triliun, dan PPN impor turun 11,65 persen menjadi Rp12,3 triliun.
Rinciannya, penerimaan bea masuk hanya sebesar Rp2,8 triliun atau turun 9 persen dan bea keluar merosot hingga 68,9 persen menjadi hanya Rp100 miliar. Di sisi lain, penerimaan cukai justru melejit 213 persen menjadi Rp1,5 triliun.
"Bea masuk ada kontraksi, pasti ada pengaruh Virus Corona. Bea keluar juga kontraksi karena ada larangan ekspor bahan mineral," kata Sri Mulyani.
[Gambas:Video CNN]
Sri Mulyani mengatakan agar dampak dari 'infeksi' Virus Corona bisa diredam pihaknya tengah menggodok stimulus ekonomi. Salah satu stimulus yang sedang dipikirkan adalah menambah manfaat kartu sembako murah.
Ia mengatakan untuk melaksanakan kebijakan tersebut, pihaknya akan menggelontorkan tambahan anggaran Rp3,8 triliun.
"Tambahan Rp3,8 triliun untuk bisa dinikmati 15 juta rumah tangga. (Tambahan diberikan) agar segera timbulkan stimulasi ekonomi. Kami juga akan tambahkan program untuk pembelian rumah bagi masyarakat berpendapatan rendah," katanya.
(aud/agt)