Ia menyatakan rupiah sangat sensitif dengan isu global. Jika sentimennya negatif, maka dampaknya ke rupiah akan langsung terasa.
"Secara fundamental rupiah masih rapuh. Kalau ada gejolak di eksternal, rupiah rentan kena," ujarnya, kepada CNNIndonesia.com, Jumat (28/2).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara, data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan investor asing tercatat jual bersih (net sell) sebesar Rp4,7 triliun sejak awal tahun hingga perdagangan 27 Februari 2020, sedangkan khusus kemarin net sell tercatat Rp1,04 triliun.
"Apa yang terjadi di bursa saham berimbas juga ke rupiah," imbuh Fithra.
"Skenario terburuknya kalau virus corona tidak bisa dikendalikan, maka rupiah bisa sampai Rp15 ribu per dolar AS, tapi kalau jangka pendek belum jauh-jauh dari Rp14.100 sampai Rp14.200 per dolar AS," tutur Fithra.
Biasanya, dampak sentimen global akan berdampak pada rupiah selama dua bulan hingga tiga bulan. Namun, jika dalam rentang waktu tersebut isu virus corona tak terselesaikan, maka pengaruhnya akan lebih panjang ke rupiah.
"Nah, di sini pemerintah perlu memberikan respons yang baik, sinyal-sinyal positif. Jangan sampai menimbulkan ketidakpercayaan untuk investor," katanya.
"Kalau sampai ada kontroversi bisa menimbulkan ketidakpercayaan untuk investor. Itu akan berimbas ke sikap investor dan mempengaruhi rupiah," jelas Fithra.
Senada, Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat rupiah akan terus tertekan selama persoalan virus corona belum selesai. Masalahnya, investor akan lari ke aset yang lebih aman (safe haven), seperti dolar AS dan emas.
"Pasar cukup khawatir sampai kapan virus corona ini akan terus berlanjut. Kalau tidak ada penanganan yang berarti, maka orang akan memilih safe haven," ucap Josua.
[Gambas:Video CNN]
Namun, ia masih optimistis rupiah tak akan tembus ke level Rp15 ribu per dolar AS. Menurut Josua, rupiah masih bisa bertahan di kisaran Rp14 ribu per dolar AS.
"Apalagi pemerintah terus memantau, BI juga memantau. Ada protokolnya kalau memang rupiah terus memburuk," jelasnya.
Terlebih, kata Josua, situasi ekonomi domestik terbilang masih cukup kondusif saat ini. Ia menyatakan sentimen itu bisa menolong rupiah agar tak jatuh terlalu dalam.
"Jadi harapannya kalau memang masih melemah ya sejalan dengan pelemahan mata uang di negara berkembang lain," ujar Joshua.
Pelemahan rupiah terpantau terjadi sejak pertengahan bulan ini. Rinciannya, rupiah masih berada di level Rp13.660 per dolar AS pada perdagangan 17 Februari 2020.
Setelah itu, nilai tukar rupiah terus melorot. Pada perdagangan 18 Februari 2020, rupiah bertengger di level Rp13.694 per dolar AS.
Secara perlahan tapi pasti, rupiah terus tertekan ke level Rp13.760 per dolar pada 21 Februari 2020. Lalu, pada perdagangan 26 Februari 2020 mendarat di level Rp13.940 per dolar AS. (aud/bir)