Pemicunya, wabah virus corona yang menyebar dari China dan beberapa negara di dunia dalam waktu dua bulan belakangan ini. Bank tersebut menyebut penyebaran virus mengancam pemulihan pendapatan perusahaan di AS yang tahun lalu mengalami tekanan hebat akibat perang dagang yang dikobarkan AS terhadap China.
Maklum dalam dua bulan ini penyebaran virus corona telah meluas. Jika awalnya penyebaran hanya terjadi di China, saat ini wabah sudah menjalar ke sekitar 62 negara.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ramalan Goldman Sachs tersebut diakui Microsoft, pemilik Priceline Booking Holdings (BKNG), dan pembuat bir Budwesier Anheuser-Busch InBev (BUD). Perusahaan blue chip terbaru tersebut mengatakan wabah virus corona memang akan mengganggu usaha mereka.
Pengakuan sama juga disampaikan Apple pekan lalu. Tak hanya itu, pertumbuhan loyo tersebut juga bisa dibaca dari pergerakan saham utama dunia termasuk AS.
[Gambas:Video CNN]
Saham di seluruh dunia terperosok dalam pada minggu ini. Beberapa indeks pasar global utama sekarang dalam koreksi yang besarannya mencapai 10 persen.
Koreksi tersebut merupakan yang terparah dalam beberapa waktu belakangan ini. Di saat sama, imbal hasil obligasi jangka panjang AS juga telah jatuh ke rekor terendah.
Kemudian VIX yang digunakan untuk mengukur volatilitas pasar, telah meroket. Dan CNN Business Fear & Greed Index yang melihat VIX dan enam ukuran sentimen pasar lainnya telah melihat sekarang tingkat ketakutan di pasar akibat masalah tersebut sudah cukup ekstrim.
Goldman Sachs memperingatkan kondisi tersebut berpotensi memburuk dalam waktu dekat.
Mereka menambahkan pandemi yang lebih parah dapat menyebabkan gangguan yang lebih lama dan resesi AS.
Tak hanya di AS, Analis Goldman menambahkan mereka juga melihat masalah yang sama pada ekonomi China.
"Penurunan parah akan terjadi pada kegiatan ekonomi China," kata mereka.
Tak hanya berdampak pada kinerja pendapatan perusahaan di AS, virus corona juga berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global.
Karena tekanan itulah Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan ekonomi global hanya akan tumbuh 2,9 persen pada tahun ini.
Pertumbuhan itu merupakan yang terendah dalam sepuluh tahun belakangan ini.