Tercatat, hanya 40 saham yang berhasil menguat. Mayoritas atau 393 saham berada di zona merah sedangkan 78 lainnya stagnan.
Tak hanya itu, investor asing juga tercatat jual bersih (net sell) di pasar reguler sebesar Rp8,08 triliun sejak awal tahun (year to date/ytd). Sedangkan di seluruh pasar, terpantau net sell sebesar Rp6,20 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau pasar melihatnya bagus (stimulus), maka ada potensi rebound (balik arah). Tapi untuk saat ini, secara teknikal trennya masih turun," imbuhnya.
Ia memprediksi indeks saham bangkit paling cepat pada kuartal II 2020. Sebab, terdapat beberapa stimulus positif pada periode tersebut yakni puasa Ramadan dan Lebaran 2020. Momentum itu, kata dia, diyakini bakal mengerek konsumsi.
[Gambas:Video CNN]
"Ekonomi China juga diperkirakan masih akan kontraksi di kuartal I 2020. Paling cepat nanti recovery pada kuartal II 2020," katanya.
Ia meramal IHSG akan melaju di rentang 4.950-5.470 pada tiga bulan pertama di 2020. Namun, hingga akhir tahun, ia memproyeksi indeks masih akan melaju di atas level 6.000.
Senada, Analis MNC Sekuritas Edwin Sebayang menyatakan pelaku pasar khawatir virus corona akan menekan pertumbuhan ekonomi global termasuk kinerja ekonomi Indonesia. Diketahui, Dana Moneter Internasional (IMF) meramal wabah tersebut akan menekan pertumbuhan ekonomi dunia hingga ke bawah 2,9 persen pada tahun ini. Angka pertumbuhan tersebut jauh dibandingkan proyeksi yang dikeluarkan IMF awal tahun lalu, yakni 3,3 persen.
"Dampaknya adalah kepada dividen yang diterima investor," katanya.
Ia memperkirakan pasar saham akan kembali bergairah pada kuartal III 2020. Ia menyebutkan Rancangan Undang-undang (RUU) omnibus law Cipta Kerja (Ciptaker) dan Perpajakan menjadi vitamin yang dinantikan investor untuk menggerakkan ekonomi Indonesia.