Melalui keterangan resmi Moody's, Rabu (11/3), langkah menunda pembagian dividen diambil karena arus kas perusahaan minyak diproyeksi seret.
Untuk mengantisipasi kondisi lebih parah, Moody's menyarankan perusahaan minyak dan gas global untuk menjaga tata kelola likuiditas perusahaan pada tahun ini. Langkah ini sekaligus untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan akibat perpecahan Arab Saudi dengan Rusia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Harga rata-rata minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) diperkirakan akan jatuh ke kisaran US$50 hingga US$70 per barel pada 2020.
Harga minyak mentah dunia terjun bebas akibat perseteruan antara Arab Saudi dan Rusia pada 5-6 Maret lalu. Kedua negara penghasil minyak tersebut bersikeras ingin meningkatkan produksi minyak.
Langkah itu boleh dibilang ampuh, mengingat harga minyak mentah dunia hari ini bangkit lebih dari 8 persen. Ini merupakan balik arah (rebound) terbesar dalam hampir 30 tahun terakhir.
Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik US$2,86 atau 8,32 persen ke posisi US$37,22 per barel. Sementara, minyak mentah berjangka WTI untuk pengiriman April menguat US$3,23 atau 10,38 persen menjadi US$34,36 per barel.
[Gambas:Video CNN]
(wel/bir)