Teranyar, virus sudah sampai ke kalangan pejabat negara. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif virus corona.
Tak ingin kasus positif terus bertambah, pemerintah daerah hingga pusat pun mulai menerapkan kebijakan beraktivitas dan bekerja di rumah. Kebijakan mulai dari Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan hingga Presiden Joko Widodo (Jokowi).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati begitu, kepala negara mengaku belum terpikir untuk mengambil langkah itu, padahal sejumlah pihak menilai kebijakan tersebut ampuh dalam menghambat penyebaran virus. Keampuhan tersebut mengacu pada apa yang sudah terjadi di Kota Wuhan, sumber virus corona.
Setelah pemerintah China mengambil langkah lockdown, penyebaran wabah mulai bisa dikurangi. Namun, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai langkah tersebut bisa membuat laju perekonomian akan semakin berat. Pasalnya, dengan kebijakan self distancing yang kadar pembatasan pergerakan masyarakat akibat virus corona lebih renda saja, tingkat konsumsi masyarakat bisa turun tajam.
[Gambas:Video CNN]
"Mungkin yang memang paling berat kalau orang sampai work from home (kerja dari rumah) segala macam kan consumption (konsumsi) ya," ungkapnya melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
Bila tingkat konsumsi berkurang, maka pertumbuhan beberapa indikator penopang ekonomi pun akan mulai berguguran. Maklum saja, perekonomian nasional sangat bergantung pada laju konsumsi masyarakat yang kini jumlahnya 260 juta orang ini.
"Semua tahu begitu consumption turun ke 4 persen, maka turun semua ke kisaran 4 persen, kalau dia turun ke 3 persen, semuanya ikut ke 3 persen," ujarnya.
Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal mengatakan kebijakan self distancing memang mau tidak mau sudah harus diterapkan. Sebab, rata-rata penyebaran virus corona di dalam negeri setidaknya mencapai 2,91 persen setiap jam.
"Tapi rasanya tidak perlu lockdown, masih cukup social distancing. Keputusan lockdown sebaiknya tetap mengacu pada jumlah kasus serta kemampuan jaminan sosial dan tenaga medis," kata Fithra kepada CNNIndonesia.com.
Sebab, lockdown akan sangat memukul laju ekonomi Indonesia secara jangka pendek. Hal ini karena kota dengan kasus terbanyak virus corona ialah Jakarta, yang merupakan pusat pemerintahan, bisnis, dan perdagangan Indonesia.
Sementara kota-kota lain yang juga memiliki sejumlah kasus corona, merupakan kota-kota di Pulau Jawa, yang lagi-lagi menjadi penggerak roda ekonomi dalam negeri. Kondisi ini berbeda dengan kebijakan lockdown di China, di mana kota yang ditutup adalah Wuhan.
Bila daerah akan terpengaruh dari sisi pariwisata dan perhotelan, maka Jakarta akan terpukul dari sisi industri jasa keuangan dan jasa lainnya. Bila itu terjadi, masalah tersebut akan menekan industri pengolahan dan perakitan. Pasalnya kondisi tersebut akan membuat aliran modal tersendat.
"Mungkin Jakarta hanya akan tumbuh sekitar 4 persen dari biasanya selalu di atas ekonomi nasional 5 persen, biasanya Jakarta bisa 6 persen, nanti jatuh," imbuhnya.
Sektor yang juga bisa 'tak selamat' bila self distancing bahkan lockdown diberlakukan adalah Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Khususnya, para pedagang kaki lima.
"Mungkin hanya UMKM yang sudah terhubung platform delivery online yang bisa bertahan, mayoritas di bidang kuliner. Begitu pula dengan e-commerce, itu masih bisa meningkat justru," terangnya.
"Sayangnya insentif yang baru diumumkan pemerintah tidak efektif, karena hanya mencoba mengurangi dampak ekonomi dari Covid-19. Padahal insentif harus diarahkan untuk mengatasi inti masalah, yakni penyebaran Covid-19," ungkapnya.
Kendati begitu, langkah lockdown belum perlu dilakukan. Menurutnya, masih cukup social distancing saja. Namun memang, pemerintah dituntut bisa bekerja efektif dengan cara tersebut. Artinya, infrastruktur dan jaringan internet perlu dibuat memadai agar kerja online bisa dilakukan.
"Kementerian Ketenagakerjaan perlu menyusun pola komunikasi digital, sehingga penyebaran Covid-19 dapat dikendalikan dan aktivitas ekonomi segera recover," imbuhnya.