(lockdown) di tengah pandemi virus corona atau covid-19. Namun, pemerintah berjanji terus mengkaji kemungkinan lockdown yang tengah mengemuka di masyarakat.
"Saya pikir belum sampai ke kondisi itu, pemerintah lihat aspek-aspeknya, semua sudut," ujar Luhut, Rabu (18/3).
Menurut Luhut, pemerintah masih fokus menerapkan kebijakan pembatasan interaksi sosial (social distancing) untuk mencegah penyebaran virus corona. Namun, ia meminta masyarakat turut mendukung imbauan dari Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati tidak mengambil keputusan lockdown, namun Luhut mengaku tidak ingin pula penyebaran virus corona menjadi masif seperti yang terjadi di Italia. Saat ini, Italia menjadi negara kedua dengan jumlah kasus positif virus corona terbanyak di dunia mencapai 31 ribu.
Di sisi lain, Luhut juga menilai pemerintah tidak perlu melakukan lockdown di pasar keuangan, meski kinerja bursa saham terus anjlok dari hari ke hari. Hal ini berbanding terbalik dengan kebijakan penutupan pasar saham di Manila, Filipina.
Penyebaran virus corona terus meluas dari waktu ke waktu. Berdasarkan data penyebaran yang dihimpun John Hopkins University, virus yang berasal dari Kota Wuhan, China itu sudah mencapai 201.530 kasus di seluruh dunia.
Dari jumlah itu, sebanyak 8.007 orang meninggal dunia. Sementara pasien yang sembuh sebanyak 82.034 orang.
[Gambas:Video CNN]
(uli/age)