Saat ini, tingkat bunga acuan bank sentral nasional berada di level 4,5 persen. BI baru saja menurunkan bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) dari sebelumnya 4,75 persen pada bulan lalu.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan ruang penurunan bunga acuan bank sentral nasional masih terbuka karena tingkat inflasi di dalam negeri cukup rendah. Pada Februari 2020, inflasi secara bulanan sebesar 0,28 persen dan secara tahunan 2,98 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Makanya, kami mempertimbangkan penurunan suku bunga hanya 25 basis poin, meski kami tahu penurunan bisa lebih tinggi," tutur Perry.
Ia menekankan bahwa stabilitas kurs rupiah sejatinya tidak hanya bisa dilakukan dengan pelonggaran kebijakan moneter dari BI. Sebab, bank sentral juga memiliki jurus di bidang makroprudensial dan riil.
Lihat juga:BI Pangkas Bunga Acuan Jadi 4,5 Persen |
Lalu, menambah frekuensi lelang FX swap bertenor satu bulan, tiga bulan, enam bulan, dan 12 bulan dari tiga kali seminggu menjadi setiap hari. Kebijakan ini berlaku mulai hari ini.
Selanjutnya, mempercepat penggunaan rekening rupiah dalam negeri (vostro) bagi investor asing sebagai underlying transaksi dalam transaksi DNDF, sehingga dapat mendorong lebih banyak lindung nilai atas kepemilikan rupiah di Indonesia. Kebijakan ini berlaku efektif mulai 23 Maret 2020.
Sementara BI mencatat depresiasi nilai tukar rupiah mencapai 5,18 persen dari awal bulan ke pertengahan bulan ini. Sedangkan dibanding akhir tahun lalu, rupiah telah melemah 8,77 persen sampai Rabu (18/3) kemarin.
Hari ini, kurs rupiah nyaris menyentuh Rp16 ribu per dolar AS di perdagangan pasar spot. Rupiah bergerak di rentang Rp15.288 sampai Rp15.913 per dolar AS. Kondisi rupiah ini pernah dialami Indonesia saat krisis moneter 1998.
(uli/bir)