"Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang semula 5 persen sampai 5,4 persen juga akan mengalami penurunan," ungkap Jokowi, Jumat (20/3).
Jika ramalan Jokowi benar terjadi, artinya, ekonomi dalam negeri akan kembali melambat tahun ini. Sebagai catatan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02 persen sepanjang 2019 atau melambat dari posisi 2018 yang sebesar 5,17 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Daya beli masyarakat harus betul-betul jadi perhatian, terutama rakyat kecil. Arahkan anggaran itu ke sana," ujar Jokowi.
Selain daya beli masyarakat, Jokowi meminta agar penggunaan APBN dan APBD harus diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan di sektor kesehatan. Hal ini sengaja dilakukan demi meredam penyebaran virus corona di dalam negeri.
Lihat juga:'Bom Waktu' PHK Karena Letusan Virus Corona |
Sebagai informasi, pemerintah telah menerbitkan dua paket kebijakan fiskal untuk meredam dampak virus corona terhadap ekonomi domestik dengan nilai mencapai Rp33,2 triliun. Untuk paket kebijakan jilid pertama totalnya Rp10,3 triliun.
Beberapa insentif fiskal yang diberikan berupa penambahan anggaran Kartu Sembako, harga diskon tiket, percepatan program kartu prakerja, dan beberapa program untuk menarik wisatawan mancanegara.
Kemudian, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp22,9 triliun untuk paket kebijakan fiskal jilid kedua. Sejumlah insentif yang diberikan, antara lain pembebasan pajak penghasilan (PPh) Pasal 21, lalu penundaan PPh Pasal 22 dan Pasal 25.
[Gambas:Video CNN]
(aud/sfr)