"Siapkan social safety net-nya, bantuan sosialnya, tolong disiapkan. Lalu, dampak ekonomi dihitung betul sehingga kesiapan kita dalam sediakan stok pangan betul-betul ada," ujar Jokowi dalam rapat terbatas melalui video conference di Istana Merdeka, Selasa (24/3).
Menurutnya, pemberian bansos melalui perhitungan potensi dampak perlu dilakukan berdasarkan kebijakan yang diterapkan agar tepat sasaran. Misalnya, kebijakan yang mungkin berdampak ke ekonomi masyarakat adalah ketika sekolah diliburkan, kantor ditutup, dan tempat-tempat transaksi ekonomi, seperti pasar ditutup.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penyaluran bansos perlu diberikan agar daya tahan dan daya beli masyarakat tetap ada. "Bansos kepada mereka harus disiapkan, jangan kita (pemerintah) hanya menutup tapi tidak dibarengi dengan kebijakan bantuan sosial dan social safety net, untuk mendukung kebijakan yang sudah dibuat," tekannya.
Kemudian, bila APBD memiliki ruang yang terbatas, ia kembali mengingatkan gubernur agar bisa menerapkan kebijakan realokasi dan refocusing anggaran sesuai instruksinya beberapa hari lalu.
Caranya, dengan memangkas anggaran pengeluaran yang tidak prioritas, misalnya perjalanan dinas, pertemuan pejabat, dan pos-pos lain yang tidak bersinggungan langsung dengan masyarakat.
Misalnya, bila skenario tekanan ekonomi sedang, maka ada potensi penurunan pendapatan kalangan buruh. Tekanan besar akan dirasakan oleh buruh di Nusa Tenggara Barat.
"Akan ada penurunan pendapatan kurang lebih 25 persen karena itu hitungan kita mampu bertahan sampai Juni sampai September (2020)," ungkapnya.
Lalu, untuk pedagang mikro dan kecil, kondisi terberat kemungkinan akan terjadi di Kalimantan Utara dengan penurunan pendapatan 35 persen. Daya tahan kemungkinan hanya sampai Agustus hingga Oktober 2020.
"Untuk tukang ojek dan supir, yang terberat di Sumatera Utara, turunnya sampai 44 persen," pungkasnya.
(uli/bir)